Berakhir Pekan dengan Belajar Sastra di Banyuwangi

Festival Sastra Banyuwangi bakal berakhir di Sabtu, 29 April 2017.

oleh Dian Kurniawan diperbarui 28 Apr 2017, 15:18 WIB
Festival Sastra Banyuwangi bakal berakhir di Sabtu, 29 April 2017. (dok. Humas Pemkab Banyuwangi)

Liputan6.com, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi menggelar festival sastra. Perhelatan yang masuk agenda Banyuwangi Festival 2017 itu berlangsung selama empat hari sejak Rabu, 26 April 2017. Kegiatan yang akan diikuti ratusan pelajar peminat sastra dipusatkan di kantor perpustakaan, depan Stadion Diponegoro.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi Djadjat Sudradjat mengatakan, gelaran itu sangat positif untuk mengembangkan kreativitas. Selain itu, pekan sastra juga bisa menyalurkan bakat dan minat anak-anak terhadap literasi.

"Dengan membaca, akan terbentuk kemampuan berpikir yang lebih berkualitas melalui suatu proses, seperti menangkap gagasan, informasi, serta dapat memahami, mengimajinasikan, mengekspresikan, dan selanjutnya menjadi lebih kreatif," tutur Djajat melalui keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com.

Pembukaan Festival Sastra akan disi berbagai acara, seperti lomba mewarnai yang diikuti 500 anak-anak TK se-Banyuwangi. Kegiatan yang berakhir pada 29 April 2017 itu juga akan diisi dengan lomba membaca puisi, bercerita, dan lomba membaca biografi mini pahlawan dan tokoh-tokoh nasional yang diikuti ratusan siswa dari tingkat SLTP dan SLTA.  

"Inilah waktunya bagi penggemar sastra dan para pembaca bertemu dengan penulis dan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Sekaligus event ini juga wadah bagi pelajar untuk mengembangkan potensi dirinya dalam kesusasteraan," kata Djajat.

Sejumlah sastrawan nasional juga hadir pada festival tersebut. Mereka tidak hanya menjadi juri, tetapi juga memberi motivasi dan pelatihan singkat tentang puisi dan kesusasteraan. Di antara yang hadir adalah Zawawi Imron Si Clurit Emas dan pemenang Khatulistiwa Award Hasan Apsahani.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan acara itu digelar untuk meningkatkan kemampuan literasi warga, khususnya pelajar Banyuwangi. Menurut dia, keterampilan menulis akan semakin terasah dengan kebiasaan membaca.

Kedua budaya ini menulis dan membaca, ucap dia, memang tak terpisahkan. Namun, budaya membaca dan menulis ini masih perlu ditingkatkan. "Kami percaya segala hal bermula dari membaca. Menulis dan membaca sebenarnya adalah sesuatu yang natural," tutur Anas.

Menurut Anas, pemilihan sastra sebagai sarana pendorong minat baca juga bukan tanpa alasan. Mengacu pada data yang dirilis oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, selama 2016, jumlah peminjam buku di perpustakaan didominasi oleh buku kesusasteraan.

"Ada sekitar 40,2 persen peminjam buku di perpustakaan Banyuwangi itu meminjam buku sastra. Dari sini, kita berpikir bahwa sastra bisa menjadi pendorong seseorang untuk suka membaca ketimbang dengan jenis bacaan lainnya," kata Anas.

Selain itu, ujar Anas, berdasarkan beberapa hasil penelitian, seorang yang suka membaca buku sastra akan menjadikan orang lebih berpikiran luas. "Oleh karena itu, ini penting ditekankan sejak dini, agar anak-anak Banyuwangi tidak terjebak dalam pemikiran sempit yang saat ini marak terjadi," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya