Kenapa ASI Perah Tak Boleh Langsung Masuk Freezer? Ini Alasannya

Menjadi ibu bekerja bukan halangan untuk tetap memberi ASI eksklusif bagi buah hati.

oleh Liputan6 diperbarui 19 Apr 2017, 06:48 WIB
Jumlah ASI Perah Untuk Bayi

Liputan6.com, Jakarta Harus bekerja ketika dalam masa menyusui anak jadi tantangan tersendiri bagi para ibu di era modern. Namun, menjadi ibu bekerja bukan halangan untuk tetap memberi ASI eksklusif bagi buah hati. Anda bisa memompa dan menyimpan ASI untuk diberikan pada bayi saat Anda tak berada di sampingnya. Tapi, agar kualitas ASI tetap terjaga, hindari langsung menyimpannya di lemari pendingin atau freezer.

Perubahan suhu ASI perah secara tiba-tiba bisa merusak kandungan gizi di dalamnya. Itu sebabnya setelah diperah, ASI tak boleh langsung disimpan di freezer. Begitu pula ketika mencairkan ASI perah, sebaiknya ASI beku tak langsung dikeluarkan dan dicairkan di suhu ruang biasa.

American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan agar sebelum disimpan dalam freezer, ASI perah disimpan terlebih dahulu di kulkas bagian bawah. Selain itu, bila akan diberikan pada bayi dalam tempo 72 jam, sebaiknya ASI perah disimpan di kulkas bagian bawah.

Namun, hal ini tidak berlaku jika ASI perah akan diberikan pada bayi lebih dari tiga hari. Untuk itu Anda perlu menyimpannya terlebih dahulu di kulkas bagian bawah setidaknya selama 30 menit. Setelah itu baru dipindahkan ke freezer.

ASI yang disimpan di freezer dengan pintu terpisah dari kulkas bagian bawah bisa bertahan hingga 6-9 bulan. Sementara, bila disimpan di deep freezer (seperti freezer untuk menjual es krim), ASI perah bisa bertahan hingga satu tahun.

Hal lain yang juga perlu Anda perhatikan adalah aturan mencairkan ASI perah beku. Sebaiknya pindahkan terlebih dahulu ke kulkas bagian bawah semalaman. Setelah itu cairkan dengan air mengalir atau dengan penghangat susu. Hindari menghangatkannya dengan microwave karena dapat merusak nutrisinya.

Jadi, mulai sekarang jangan langsung menyimpan ASI di freezer. Menjaga kualitas dan nutrisi ASI sangat diperlukan untuk pertumbuhan sang anak.

Artikel oleh: dr Resthie Rachmanta Putri, M.Epid/Klikdokter.com

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya