Umat Hindu di Bali Rayakan Hari Suci Kuningan

Hari Suci Kuningan dirayakan sepuluh hari setelah Galungan dengan menghaturkan sesaji di pura.

oleh Liputan6 diperbarui 15 Apr 2017, 09:49 WIB
Umat Hindu berdoa saat perayaan Kuningan di sebuah pura di Pulau Serangan, Denpasar, Bali, Sabtu (20/2). Kuningan merupakan hari terakhir perayaan Galungan diyakini menjadi hari kekuasaan roh suci leluhur kembali ke langit. (AFP PHOTO/SONNY Tumbelaka)

Liputan6.com, Denpasar - Umat Hindu di Bali memperingati Hari Suci Kuningan hari ini, Sabtu (15/4/2017) sebagai rangkaian Hari Raya Galungan untuk merayakan Kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan).

Kuningan dirayakan sepuluh hari setelah Galungan dengan menghaturkan sesaji di pura maupun merajan, tempat suci milik masing-masing keluarga.

Mengenakan busana adat Bali, sebagian umat Hindu di Kota Denpasar dan sekitarnya juga bersembahyang di Pura Jagatnatha atau Pura Sakenan di Kelurahan Serangan, 12 km arah selatan Kota Denpasar. Demikian dilansir dari Antara.

Kuningan berlangsung bertepatan dengan ritual besar (piodalan) di Pura Sakenan. Persembahyangan berlangsung sejak pagi hingga sore hari.

Panitia dan bendesa adat Serangan mengatur warga yang antre hendak mengikuti persembahyangan di Pura Sakenan, yakni salah satu Pura "Sad Kahyangan" (pura besar) dengan Persada dengan bangunan bertingkat-tingkat seperti limas.

Akademisi Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Prof Dr Drs Made Surada MSi menjelaskan Kuningan dimaknai sebagai momentum instropeksi diri untuk mencapai kedamaian dan kesejahteraan.

Perayaan Kuningan merupakan pengejawantahan ajaran cinta kasih dari kemenangan dharma dalam kegiatan pelayanan dan pengabdian.

"Hal ini dapat dikupas secara filosofis dari beberapa sarana dan prasarana upacara, seperti tamiang, sulanggi, tebog, wayang-wayangan, endongan, kolem, ter, dan nasi kuning, ujar Made Surada.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya