Susah Diformulasikan, Dinding Ban Berakhir Retak

Bahan baku ban adalah benda keras, sehingga cukup sulit untuk diolah, apalagi untuk mencampurkannya dengan zat lain.

oleh Rio Apinino diperbarui 14 Apr 2017, 11:01 WIB
Dinding ban retak (ist)

Liputan6.com, Karawang - Salah satu ciri ban kendaraan apapun yang sudah cukup berusia adalah bagian sampingnya yang retak. Hal ini bisa disebabkan karena usia, dan juga bisa dipercepat jika ban tidak dirawat dengan benar.

Raditya Budianto, mekanik Planet Ban, pada Januari lalu pernah mengatakan bahwa satu penyebab ban rusak adalah saat dicuci menggunakan sikat dengan tekanan berlebih. Selain itu, deterjen pakaian juga bisa membuat ban retak.

"Jangankan ban, kena tangan saja sudah panas. Jika panas nantinya jadi keras bannya. Kalau bisa coba cuci pakai sabun cuci piring," terangnya kala itu.

Selain salah mencuci, penyebab ban retak juga bisa karena ia terkena bahan bakar minyak. Jika ban terkena cairan BBM, kata Radit, bisa menyebabkan bahan-bahan yang terbuat dari karet melar. Alhasil, jaringan karet bisa terputus.

Dari alasan-alasan itu, diketahui bahwa satu-satunya sebab ban rusak adalah faktor eksternal. Padahal sebetulnya, zat yang terkandung di dalam ban itu sendiri memang belum memungkinkan untuk mencegah retak sama sekali.

Hal ini dijelaskan oleh Yulfachmi, Technical Manager ban IRC dari PT Gajah Tunggal. Ia menjelaskan, membuat ban yang sama sekali tidak bisa retak sangat sulit.

Dalam pembuatan ban, karet mentah akan dicampurkan sedemikian rupa dengan zat-zat kimia yang dibutuhkan, salah satunya adalah zat anti retak. Masalahnya, bahan baku adalah karet yang notabene adalah benda padat.

"Kalau kamu campur air pakai teh, itu tercampur sempurna. Tapi kalau ban, dia keras, bagaimana zat kimia bisa homogen tercampur di seluruh bagian ban?" terangnya, di Karawang, Jawa Barat belum lama ini.

Karena alasan itu, ada bagian-bagian pada ban yang kadang lebih lemah ketimbang bagian lain. Satu ban dan ban lainnya akan berbeda.

Menurut Fachmi, sayangnya sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa memastikan zat-zat yang diperlukan tercampur dengan sempurna.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya