Bang Jack, Musisi Sansado yang Lebih Diapresiasi di Luar Negeri

Sasando, alat musik khas Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) memang belum setenar Harpa.

oleh Liputan6 diperbarui 11 Apr 2017, 13:00 WIB
Foto: Jackob Hendrich Ayub Bullan

Liputan6.com, Jakarta Sasando, alat musik khas Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) memang belum setenar Harpa. Nama sebenarnya adalah Sasandu. Berasal dari kata Sandu yang artinya bunyi. Sasandu berarti, bunyikan.

Begitulah penuturan bang Jack di Adiwastra Nusantara 2017 yang diadakan di JCC Senayan Minggu, 9 April 2017. Selain piawai memainkan alat musik khas ini, ia juga seorang penyanyi dan pembuat Sasandu.

Foto: Karmin Winarta

Dengan Sasandu, kini ia telah tampil di 40 negara. Bahkan ia pernah tampil di Belanda selama 7 kali. Mayoritas dia diundang dalam acara-acara kenegaraan.

Nama lengkapnya Jackob Hendrich Ayub Bullan. Kisah pemusik yang berasal dari Rote ini mirip fiksi. Ia belajar bermain musik Sasando sejak usia 14 tahun. Ia adalah satu-satunya musisi Sasandu termuda yang ikut melakukan ritual adat di wilayahnya.

Namun oleh kakeknya, ia dilarang menjadi musisi professional. Seperti biasa alasannya, menjadi musisi masa depannya suram. Sang kakek lebih menyarankan Jack kecil untuk memelihara kerbau, sapi dan babi miliknya.

Untuk menyenangkan kakek, ia pun bekerja. Ia hijrah ke ibukota, Jakarta dengan harapan sukses seperti impian kakeknya. Namun apa yang dialaminya sungguh tragis. Kenyataan tak seindah impian.

Di Ibukota, ia mengaku pernah menjadi cleaning service, satuan dan pengaman ( satpam). Ia pernah juga tinggal di kontrakan yang dipenuhi tikus. Namun ia tak menyerah.

Selain sibuk bekerja dia juga aktif di kegiatan keagamaan. Kegiatan itu mengharuskan ia memainkan alat musik Sasandu. Kepiawaiannya ini tampaknya membuat para koleganya memintanya untuk memberikan les privat kepada anak-anak dan juga orang dewasa. Dari sini namanya mulai dikenal sebagai musisi Sasandu.

Sejak beberapa tahun lalu ia diungang ke berbagai negara untuk memainkan Sasandu. Ia mengatakan, ia satu tahun pernah pentas di luar negeri sebanyak 14 kali.

Foto: Jackob Hendrich Ayub Bullan

Meski kini namanya sudah populer, laki-laki yang kini tinggal di Cakung, Jakarta Timur ini tak mempunyai manager. Ada cerita menarik ketika ia pentas di berbagai tempat. Pertanyaan yang diajukan banyak orang adalah kenapa ia tak memiiki manager artis atau asisten atau apapun sebutannya.

Menurutnya ia suka geli jika harus mempunyai asisten. Ia tak bisa membayangkan jika pentas kemana-mana ada asisten yang membawakan Sasandunya, membukakan pintu atau bahkan mengelap keringat yang muncul di wajahnya.

“Itu bukan karakter saya, saya ingin menjadi diri saya sendiri.

Lalu siapa yang mengatur jadwal, melakukan nego atau berpromosi untuk mendapatkan “job”? Ia menyebut, manajernya adalah “yang di atas”.

Kini ia aktif mengajar di sekolah musik di sebuah Mal di Jakarta Utara. Mirisnya, semua siswanya orang asing. Tak ada satu pun yang berasal dari Indonesia.

Tragisnya, di Rote, tempat asal Sasandu ini juga sudah jarang yang mempelajarinya. Tinggal para orang tua yang bisa memainkannya. Jika tak ada pembelajaran musik Sasandu mulai sekarang, bisa jadi Sasando kelak tinggal cerita.

Di rumahnya yang juga dipakai sebagai bengkel Sasandu, ia juga mencipta alat musik yang mirip harpa itu. Ada beberapa pesanan yang harus dikerjakan. Untuk menyelesaikan satu alat musik Sasandu perlu waktu sekitar satu bulan.

Foto: Jackob Hendrich Ayub Bullan

Harga Sasandu bervsariasi tergantung bahan yang digunakan. Harga termurah sekitar 4 juta rupiah. Dan jika memakai bahan kayu cendana, harganya bisa mencapai 20 juta rupihan. Bagaimana berminat?

Ia berharap, musisi Sasando bisa dihargai setara seperti pemain harpa.

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya