Potret Menembus Batas: Ironi Negeri Tambang Aspal Terbesar Dunia

Hidup di atas tanah dengan potensi tambang Aspal terbesar di dunia tak membuat sebagian masyarakat Pulau Buton bahagia.

oleh Muhamad Nuramdani diperbarui 27 Feb 2017, 03:15 WIB

Liputan6.com, Buton - Betapa kaya negeri ini. Punya dua tambang terbesar di dunia. Salah satunya di samping tambang emas dan tembaga di Papua.

Tambang aspal alami di Pulau Buton adalah yang terbesar di dunia. Pulau di bagian tenggara Sulawesi ini menyimpan 80 persen total cadangan aspal dunia selain di Trinidad, Meksiko dan Kanada.

Eksplorasi terus dilakukan. Salah satu yang membuktikan adalah kandungan aspal alam di Pulau Buton tak kurang dari 750 juta ton.

Tak perlu menggali, semua terhampar. Tapi di sini tak ada eksploitasi besar besaran, meski potensinya besar.

Hidup di atas tanah dengan potensi besar tak membuat sebagian masyarakat bahagia. Bahkan merasa memiliki pun tidak.

Di tengah keterpurukan produksi aspal Buton, geliat ekspor masih dirasakan. Tapi jumlahnya jauh dari optimal. Bahkan angkanya terus menurun, hanya 20 ribu ton per bulan, 15 ribu ton untuk ekspor dan 5 ribu ton untuk Buton.

Melimpah tapi belum maksimal diolah. Aspal yang tersebar di 43 ribu hektare area Pulau Buton diyakini tak akan habis hingga 300 tahun.

Tapi minimnya permintaan membuat banyak stockpile mangkrak. Dari 32 izin penambangan yang dikeluarkan, hanya 5 yang berproduksi.

Bahkan tahun 87 PHK besar-besaran terjadi dan stok saat itu mencapai 360 ribu ton aspal.

Pemanfaatan asbuton sebenarnya mulai menemui titk terang pada tahun 1970.Pada masa keemasannya, jumlah produksi bahkan mencapai 300 ribu ton.

Pemerintah saat itu mengeluarkan kebijakan untuk memanfaatkan proyek-proyek binamarga.

Saat ini baru kabupaten dan kota buton yang 100 persen menggunakan aspal Buton, Asbuton.

Sayangnya hampir semua pekerjaan konstruksi jalan tanah air menggunakan aspal minyak impor dari negara lain.

Saksikan selengkanya video ironi tambang aspal terbesar di dunia yang ditayangkan Potret Menembus Batas SCTV, Minggua (27/2/2017).

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya