Mensos Khofifah Ingin Ulama Pesantren Melek Teknologi Informasi

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa berharap pondok pesantren mampu menyumbang lebih banyak lagi energi positif untuk bangsa.

oleh Liputan6 diperbarui 20 Feb 2017, 06:48 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa berharap pondok pesantren mampu menyumbang lebih banyak lagi energi positif untuk bangsa.

"Tantangan Indonesia saat ini jauh lebih berat daripada tahun-tahun sebelumnya dan pondok pesantren harus bisa menjawab tantangan itu," kata Khofifah di Pondok Pesantren Diniyah Putri Muara Bungo, Jambi.

Tantangan yang cukup berat, jelas dia, adalah dampak negatif globalisasi dan mudahnya akses informasi serta ancaman bahaya narkoba. Oleh karena itu, kiai di pondok pesantren juga harus melek teknologi informasi.

Menurut Khofifah, teknologi informasi saat ini sudah menjadi kebutuhan hampir semua lapisan masyarakat, terutama generasi muda. Karenanya tidak jarang ditemui banyak kejahatan yang memanfaatkan teknologi informasi seperti perdagangan orang, prostitusi online, dan narkoba.

"Informasi yang bagus banyak, dan yang negatif pun juga banyak. Jika kiai dan ulama tidak memahami teknologi informasi bagaimana bisa berperan aktif membendung yang negatifnya?" ujar dia.

Peran teknologi informasi, lanjut Khofifah, sebenarnya bisa juga dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah Islamiah. Dengan demikian jangkauan umat yang terpapar dakwah bisa jauh lebih besar dan luas.

Khofifah menambahkan, dengan melek teknologi informasi maka ke depan pondok pesantren bisa melahirkan SDM unggul, baik dari sisi spiritualitas maupun teknologi sehingga mampu menjawab tantangan globalisasi budaya dan ekonomi.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyoroti peran kaum perempuan dalam membentuk karakter bangsa. Menurutnya, di era saat ini perempuan dituntut jauh lebih maju, berwawasan luas, cerdas, modern, dan bermartabat.

"Perempuan tidak lagi hanya berkutat dengan urusan domestik rumah tangga, namun juga kebangsaan," ungkap Khofifah seperti dikutip dari Antara, Senin (20/2/2017).

Dia menuturkan, perempuan Indonesia harus menjadi pilar dalam membentengi anak-anak agar tidak menjadi antisosial. Perempuan Indonesia juga harus mampu menjaga ketahanan sosial dan kesejahteraan keluarga.

"Seiring tuntutan zaman, perempuan dituntut untuk merevitalisasi pola pengasuhan dan proses pendidikan anak-anak di dalam keluarga," ujar Khofifah.

Dengan demikian, generasi penerus bangsa memiliki karakter yang kuat dan terhindar dari berbagai dampak negatif arus globalisasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya