Liputan6.com, Havana: Fidel Castro kembali menjadi pusat perhatian, Senin (12/7), waktu setempat setelah beberapa tahun tidak tampil di depan publik. Dalam sebuah talkshow "Mesa Redonda" di sebuah stasiun televisi, Castro yang mengenakan atasan kemeja kotak-kotak dan jas biru gelap, membahas sejumlah peristiwa dunia dengan suara serak.
Mantan presiden berusia 83 tahun ini ini berbicara mengenai ketegangan antara Amerika Serikat, Korea Utara, dan Iran yang dapat memicu perang nuklir global. Castro memperingatkan serangan terhadap Iran akan menjadi bencana besar bagi Amerika. "Yang terburuk (untuk Amerika) adalah perlawanan yang akan mereka hadapi di sana dan itu tidak sama ketika mereka menghadapi di Irak," katanya.
Percakapan pun berkisar luas, mulai dari kebutuhan energi Pakistan, soal belanja pengeluaran pertahanan Amerika, hingga keputusan Cina untuk meminjamkan uang kepada Kuba untuk membeli energi listrik yang efisien. Namun satu hal yang Castro tidak bahas, yaitu kejadian di Kuba terkait pembebasan 52 tahanan politik dalam beberapa bulan mendatang.
Mantan pemimpin Kuba ini telah menghindari sorotan publik sejak menjalani operasi darurat usus pada Juli 2006. Penyakit ini memaksanya untuk mundur sementara--dan kemudian secara permanen--hingga menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Raul. Status kesehatannya merupakan rahasia negara yang menajdi bahan gosip. Kendati demikian, pemimpin revolusioner ini tetap menjadi Ketua Partai Komunis Kuba, dan terus untuk menerbitkan pikirannya.(AP/AST)
Mantan presiden berusia 83 tahun ini ini berbicara mengenai ketegangan antara Amerika Serikat, Korea Utara, dan Iran yang dapat memicu perang nuklir global. Castro memperingatkan serangan terhadap Iran akan menjadi bencana besar bagi Amerika. "Yang terburuk (untuk Amerika) adalah perlawanan yang akan mereka hadapi di sana dan itu tidak sama ketika mereka menghadapi di Irak," katanya.
Percakapan pun berkisar luas, mulai dari kebutuhan energi Pakistan, soal belanja pengeluaran pertahanan Amerika, hingga keputusan Cina untuk meminjamkan uang kepada Kuba untuk membeli energi listrik yang efisien. Namun satu hal yang Castro tidak bahas, yaitu kejadian di Kuba terkait pembebasan 52 tahanan politik dalam beberapa bulan mendatang.
Mantan pemimpin Kuba ini telah menghindari sorotan publik sejak menjalani operasi darurat usus pada Juli 2006. Penyakit ini memaksanya untuk mundur sementara--dan kemudian secara permanen--hingga menyerahkan kekuasaan kepada adiknya, Raul. Status kesehatannya merupakan rahasia negara yang menajdi bahan gosip. Kendati demikian, pemimpin revolusioner ini tetap menjadi Ketua Partai Komunis Kuba, dan terus untuk menerbitkan pikirannya.(AP/AST)