Saham Unggulan Topang Penguatan IHSG Sepekan

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,1 persen menjadi 5.312 pada Jumat 28 Januari 2017.

oleh Agustina Melani diperbarui 28 Jan 2017, 08:48 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Pasar modal Indonesia cukup positif pada periode 20 Januari-27 Januari 2017. Ini ditunjukkan dari laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 1,1 persen.

Mengutip laporan PT Ashmore Asset Management Indonesia, seperti ditulis Sabtu (28/1/2017), IHSG naik 1,1 persen dari 5.254 pada Jumat 20 Januari 2017 menjadi 5.312 pada Jumat 28 Januari 2017.

Penguatan IHSG didorong dari saham-saham unggulan seiring investor melihat valuasi saham kapitalisasi besar yang murah. Hal itu imbas aksi jual terjadi pada awal tahun.

Sementara itu, aksi jual relatif menipis di pasar saham mencapai US$ 2,3 juta. Di pasar obligasi atau surat utang cenderung mendatar. Meski demikian, aliran dana investor asing masuk ke pasar obligasi mencapai US$ 491 juta.

Dalam laporan Bursa Efek Indonesia (BEI), rata-rata volume transaksi perdagangan saham periode 23-27 Januari 2017 alami kenaikan 65,90 persen menjadi 21,29 miliar unit saham. Rata-rata nilai transaksi harian saham selama sepekan naik 17,69 persen menjadi Rp 6,32 triliun. Sedangkan rata-rata frekuensi juga meningkat 14,78 persen menjadi 340,89 ribu kali.

Pada pekan ini, kepemilikan saham oleh investor domestik mencapai 45,88 persen. Jumlahnya merupakan persentase  investor domestik tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Capaian persentanse investor domestik tertinggi dalam rentang 10 tahun terakhir pada 2012 dengan persentase 41,2 persen.

Lalu sentimen apa saja pengaruhi pasar modal? Dari eksternal, pada masa awal pemerintahan, Donald Trump telah menandatangani sejumlah perintah eksekutif antara lain keluar dari perjanjian perdagangan Trans Pacific Partnership (TPP), menandatangani konstruksi pembangunan pipa minyak, membangun tembok di perbatasan Meksiko. Hal tersebut apa yang sudah disampaikannya dalam kampanye. Pihaknya pun akan mendorong pertumbuhan ivnestasi di AS.

Selain itu, data Jepang yaitu consumer price index (CPI) turun untuk pertama kali dalam empat tahun. Data Jepang menunjukkan kalau harga turun 0,3 persen pada 2016 seiring lemahnya belanja rumah.

Dari internal, Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar terbaru saham-saham masuk indeks LQ45. Saham-saham yang masuk indeks LQ45 antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT PP Properti Tbk (PPRO). Lalu mengeluarkan PT Global Mediacom Tbk (BMTR), PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), dan PT Siloam Hospital Tbk (SILO).

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga merilis investasi pada 2016. Realisasi investasi tercatat Rp 613 triliun pada 2016. Kontribusi dari investasi tersebut dari sektor usaha kimia dasar dan farmasi, logam, elektronik dan makanan. BKPM menargetkan pertumbuhan investasi 11 persen pada 2017.

Lalu bagaimana untuk pasar modal selanjutnya pada 2017?

Dalam laporan Ashmore menyebutkan kalau baik obligasi dan saham memiliki valuasi yang menarik pada 2016. Bahkan saham mampu mencatatkan performa baik. Oleh karena itu, pihaknya mengharapkan performa lebih baik untuk saham.

Performa baik untuk saham akan didukung dari saham-saham berkapitalisasi kecil. Saham-saham tersebut memiliki potensi tinggi dibandingkan obligasi. Berdasarkan konsensus, earning per share (EPS) diharapkan 15-17 persen pada 2017.

Sedangkan di pasar obligasi memiliki risiko dari kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (The Fed) dan inflasi tinggi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya