Liputan6.com, Jakarta: Pintu Air Manggarai yang berlokasi di perbatasan Manggarai, Jakarta Selatan, dan Menteng, Jakarta Pusat, memiliki fungsi penting dalam mengendalikan banjir di Ibu Kota. Pasalnya, dengan dua pintu yang dimilikinya, Pintu Air Manggarai (PAM) dapat mengatur debit air kiriman maupun yang akan mengalir lewat anak-anak sungai. Dalam situasi banjir saat ini, sangat mungkin banyak pihak yang ingin turut campur dalam pengaturan pintu air tersebut. Itulah sebabnya, penjagaan terhadap PAM dilakukan dengan melibatkan kepolisan sebanyak dua satuan setingkat kompi. Demikian penjelasan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dalam inspeksi mendadak di PAM, Jumat (1/2).
Menurut Sutiyoso, proses buka-tutup PAM memerlukan perhitungan dan kajian mendalam. Jika tidak, luas areal yang tergenang banjir akan meluas. Untuk itu, Sutiyoso meminta masyarakat yang daerahnya masih tergenang supaya tetap sabar dan mempercayakan sepenuhnya penanganan banjir kepada Pemerintah DKI Jaya. Lebih lanjut, Sutiyoso menambahkan, pemerintah akan terus menjaga batas toleransi dari dibukanya dua pintu utama di PAM. Sehingga, musibah banjir tidak semakin meluas dan melumpuhkan perekonomian Jakarta.
Hingga Jumat petang, dari kedua pintu, baru pintu pengendali ke arah Tanahabang saja yang dibuka. Sementara itu, pintu pengendali menuju Istana baru dibuka sekitar 20 sentimeter dari genangan air yang mencapai 9,8 meter dari batas normal [baca: Istana Terancam Terendam]. Pada Sabtu dinihari tadi, ketinggian air di PAM sudah mencapai 1040 sentimeter, melewati batas maksimal 980 cm.
Di lain tempat, petugas PAM bernama Riwut Padmadi mengaku sering menerima teror melalui telepon. Penelepon gelap itu biasanya mendesak untuk dibukakan pintu air Petugas Pintu Air Kerap Menerima Teror]. Desakan mereka ini dapat dipahami, karena dengan dibukanya pintu air, luapan air yang menenggelamkan rumah mereka dapat dikurangi. Namun jika PAM dibuka tanpa perhitungan, wilayah lain dijamin akan tergenang air.
Kasus serupa juga sempat terjadi di Kelapa Gading Barat dan Sunter Jaya, Jakarta Utara. Ratusan warga di sana nyaris terlibat bentrokan fisik gara-gara ingin menguasai Pintu Air Kali Mati yang dapat mengendalikan arus banjir di kawasan tersebut [baca: Dua Kelompok Warga Nyaris Bentrok Rebutan Pintu Air]. Warga Kelapa Gading Barat mendesak supaya pintu air dibuka lebar untuk mengurangi genangan air di wilayah mereka. Di lain pihak, warga Sunter Jaya tentu menolak permintaan itu. Soalnya, jika pintu air dibuka, otomatis wilayah Sunter Jaya akan tergenang. Untunglah, bentrokan bisa dihindarkan setelah polisi dikerahkan.
Pemda meminta kedua pihak supaya mematuhi kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Dalam kesepakatan itu, Pintu Air Kali Mati harus sedikit dibuka. Itu pun harus melalui pengawasan petugas dari Dinas Pekerjaan Umum.(ZAQ/Machmud dan Satya Pandia)
Menurut Sutiyoso, proses buka-tutup PAM memerlukan perhitungan dan kajian mendalam. Jika tidak, luas areal yang tergenang banjir akan meluas. Untuk itu, Sutiyoso meminta masyarakat yang daerahnya masih tergenang supaya tetap sabar dan mempercayakan sepenuhnya penanganan banjir kepada Pemerintah DKI Jaya. Lebih lanjut, Sutiyoso menambahkan, pemerintah akan terus menjaga batas toleransi dari dibukanya dua pintu utama di PAM. Sehingga, musibah banjir tidak semakin meluas dan melumpuhkan perekonomian Jakarta.
Hingga Jumat petang, dari kedua pintu, baru pintu pengendali ke arah Tanahabang saja yang dibuka. Sementara itu, pintu pengendali menuju Istana baru dibuka sekitar 20 sentimeter dari genangan air yang mencapai 9,8 meter dari batas normal [baca: Istana Terancam Terendam]. Pada Sabtu dinihari tadi, ketinggian air di PAM sudah mencapai 1040 sentimeter, melewati batas maksimal 980 cm.
Di lain tempat, petugas PAM bernama Riwut Padmadi mengaku sering menerima teror melalui telepon. Penelepon gelap itu biasanya mendesak untuk dibukakan pintu air Petugas Pintu Air Kerap Menerima Teror]. Desakan mereka ini dapat dipahami, karena dengan dibukanya pintu air, luapan air yang menenggelamkan rumah mereka dapat dikurangi. Namun jika PAM dibuka tanpa perhitungan, wilayah lain dijamin akan tergenang air.
Kasus serupa juga sempat terjadi di Kelapa Gading Barat dan Sunter Jaya, Jakarta Utara. Ratusan warga di sana nyaris terlibat bentrokan fisik gara-gara ingin menguasai Pintu Air Kali Mati yang dapat mengendalikan arus banjir di kawasan tersebut [baca: Dua Kelompok Warga Nyaris Bentrok Rebutan Pintu Air]. Warga Kelapa Gading Barat mendesak supaya pintu air dibuka lebar untuk mengurangi genangan air di wilayah mereka. Di lain pihak, warga Sunter Jaya tentu menolak permintaan itu. Soalnya, jika pintu air dibuka, otomatis wilayah Sunter Jaya akan tergenang. Untunglah, bentrokan bisa dihindarkan setelah polisi dikerahkan.
Pemda meminta kedua pihak supaya mematuhi kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Dalam kesepakatan itu, Pintu Air Kali Mati harus sedikit dibuka. Itu pun harus melalui pengawasan petugas dari Dinas Pekerjaan Umum.(ZAQ/Machmud dan Satya Pandia)