Pedagang Prediksi Harga Cabai Akan Terus Meroket

Salah satu faktor pemicu kenaikan harga cabai adalah tidak seimbangnya pasokan dan permintaan.

oleh Septian Deny diperbarui 06 Jan 2017, 09:45 WIB
Salah satu faktor pemicu kenaikan harga cabai karena tidak seimbangnya antara pasokan dan permintaan.

Liputan6.com, Jakarta - ‎Pedagang pasar tradisional memperkirakan kenaikan harga cabai, khususnya jenis rawit, masih akan berlanjut. Hal tersebut lantaran masih minimnya pasokan cabai jenis ini ke sejumlah daerah.

Ketua Umum ‎Ikatan Pedagang Pasar Tradisional, Abdullah Mansuri, mengatakan, ‎saat ini rata-rata harga cabai secara nasional Rp 100 ribu per kg. Jika tidak ada penanganan dari pemerintah, dia memperkirakan harga tersebut bisa menembus Rp 200 ribu, atau sama seperti harga di Samarinda saat ini.

"Sangat‎ (berpotensi terus naik). Kalau secara nasional sekarang Rp 100 ribu, kalau pemerintah diam saja ya bisa Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Jumat (6/1/2017).

Mansuri menyatakan, salah satu faktor pemicu kenaikan harga ini karena tidak seimbangnya pasokan dan permintaan. Saat ini pasokan tengah menurun akibat curah hujan tinggi di sejumlah sentra produksi cabai.

"Yang pasti harga ini akan terus bergerak naik karena supply dan demand tidak seimbang. Banyak gagal panen, banyak banjir di wilayah penghasil, curah hujan tinggi sehingga produksi berkurang," kata dia.

Terlebih lagi, ucap Mansuri, rawit merah merupakan salah ‎jenis cabai yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Dengan demikian, jika permintaan semakin tinggi, harganya akan terus terkerek naik. ‎"Konsumsi tertinggi itu sebenarnya ada di cabai rawit, dan cabai keriting. Tapi cabai rawit itu favorit," tandas dia.

Harga cabai terus melonjak naik dalam beberapa hari ini. Bahkan di kota besar di Kalimantan, harga cabai sudah mencapai Rp 200 ribu per kilogram (kg).

Harga cabai tiung di sejumlah pasar tradisional di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, dalam tiga hari terakhir melambung tinggi hingga mencapai Rp 200 ribu per kg. Hal ini dikeluhkan oleh konsumen yang didominasi ibu-ibu rumah tangga.

"Saya tidak mengerti mengapa kenaikan harga cabai bisa begitu tinggi, padahal kami sekeluarga kalau makan tidak ada sambal, rasanya kurang nikmat," ujar Nani di Samarinda, melansir Antara, Rabu (4/1/2017).

Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional di Kota Samarinda, harga cabai yang ditawarkan penjual di los pasar berbeda-beda, tetapi tidak jauh dari Rp 200 ribu per kg.

Di Pasar Segiri Samarinda, misalnya, harga cabai tiung dijual Rp 200 ribu per kg, cabai rawit Rp 120 ribu per kg, cabai keriting Rp 45 ribu per kg, dan cabai merah besar Rp 40 ribu per kg.

Kemudian di Pasar Kedondong Samarinda harga cabai tiung Rp 200 ribu per kg, cabai rawit Rp 70 ribu per kg, cabai keriting Rp 40 ribu per kg, dan cabai merah besar Rp 35 ribu per kg.

Di Pasar Sungai Dama Samarinda harganya relatif lebih murah untuk jenis cabai lain, sementara jenis cabai lainnya lebih mahal, yakni cabai tiung seharga Rp 150 ribu per kg, cabai rawit Rp 80 ribu per kg, cabai keriting Rp 60 ribu per kg, dan cabai merah besar Rp 50 ribu per kg. (Dny/Gdn)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya