Liputan6.com, Klaten: Kepolisian masih menyelidiki kasus pendaratan darurat pesawat Boeing 737-300 milik maskapai penerbagan Garuda Indonesia Airways di Sungai Bengawan Solo, Klaten, Jawa Tengah. Untuk penyelidikan lanjutan polisi masih menunggu hasil Tim Investigasi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Demikian dikemukakan Kepala Kepolisian Resor Klaten Ajun Komisaris Besar Polisi I Ketut Yoga di Klaten, Jumat (25/01).
Tanggung jawab penyelidikan penyebab kecelakaan, lanjut Yoga, di tangan Tim Investigasi KNKT [baca: KNKT: Bahan Investigasi Kecelakaan Pesawat Sudah Lengkap]. Polisi akan menindaklanjuti proses hukum kecelakaan pesawat itu setelah ada laporan penyebab pendaratan darurat.
Menurut Yoga, polisi tak dapat menyelidiki penyebab kematian pramugari yang tawas, Santi Anggraeni [baca: Jenazah Santi Anggraini Dimakamkan di Magelang]. Sebab, keluarga korban keberatan jenazahnya di otopsi. Sementara Humas Garuda Ikhsan Rosaan membenarkan jenazah Santi yang ditemukan masyarakat sekitar 500 meter dari lokasi kecelakaan, dalam keadaan setengah telanjang. Diduga, pakaian pramugari teladan itu robek dan terlepas ketika toilet dan tempat duduk jebol. Di tambah lagi, korban kemudian terseret arus Bengawan Solo.(YYT/Teguh Hadi Prayitno dan Kukuh Ary Wibowo)
Tanggung jawab penyelidikan penyebab kecelakaan, lanjut Yoga, di tangan Tim Investigasi KNKT [baca: KNKT: Bahan Investigasi Kecelakaan Pesawat Sudah Lengkap]. Polisi akan menindaklanjuti proses hukum kecelakaan pesawat itu setelah ada laporan penyebab pendaratan darurat.
Menurut Yoga, polisi tak dapat menyelidiki penyebab kematian pramugari yang tawas, Santi Anggraeni [baca: Jenazah Santi Anggraini Dimakamkan di Magelang]. Sebab, keluarga korban keberatan jenazahnya di otopsi. Sementara Humas Garuda Ikhsan Rosaan membenarkan jenazah Santi yang ditemukan masyarakat sekitar 500 meter dari lokasi kecelakaan, dalam keadaan setengah telanjang. Diduga, pakaian pramugari teladan itu robek dan terlepas ketika toilet dan tempat duduk jebol. Di tambah lagi, korban kemudian terseret arus Bengawan Solo.(YYT/Teguh Hadi Prayitno dan Kukuh Ary Wibowo)