Liputan6.com, Gunungkidul: Unjuk rasa ratusan orang yang mengatasnamakan Gunungkidul Corruption Watch atau GCW awalnya berlangsung damai. Massa menuntut penuntasan kasus dugaan korupsi yang dilakukan bupati setempat, Suharto. Tiba-tiba, massa diserang puluhan orang yang diduga pro-bupati.
Ratusan orang yang umumnya mahasiswa dan ibu rumah tangga itu pun langsung berlarian ketika puluhan pendukung bupati dengan menggunakan dua jip membubarkan paksa aksi mereka di depan rumah dinas bupati. Sekelompok massa ini merebut paksa spanduk dan pengeras suara milik pengunjuk rasa saat long march dari rumah dinas bupati ke Kejaksaan Negeri Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ketegangan terus terjadi saat para pendukung bupati memaksa massa GCW membubarkan diri. Beberapa pengunjuk rasa mengalami luka ringan akibat pukulan dan pentungan dari massa pro-bupati yang kebetulan melakukan kampanye damai Pemilihan Kepala Daerah Gunungkidul ini. Tak hanya pengujuk rasa yang mengalami kekerasan, beberapa wartawan televisi yang hendak meliput unjuk rasa ini juga mengalami kekerasan.
Para wartawan televisi dihalang-halangi untuk mengambil gambar. Bahkan, salah satu wartawan televisi swasta terkena pentungan dari massa pro-bupati yang hendak membubarkan unjuk rasa tersebut.(IDS/ANS)
Ratusan orang yang umumnya mahasiswa dan ibu rumah tangga itu pun langsung berlarian ketika puluhan pendukung bupati dengan menggunakan dua jip membubarkan paksa aksi mereka di depan rumah dinas bupati. Sekelompok massa ini merebut paksa spanduk dan pengeras suara milik pengunjuk rasa saat long march dari rumah dinas bupati ke Kejaksaan Negeri Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ketegangan terus terjadi saat para pendukung bupati memaksa massa GCW membubarkan diri. Beberapa pengunjuk rasa mengalami luka ringan akibat pukulan dan pentungan dari massa pro-bupati yang kebetulan melakukan kampanye damai Pemilihan Kepala Daerah Gunungkidul ini. Tak hanya pengujuk rasa yang mengalami kekerasan, beberapa wartawan televisi yang hendak meliput unjuk rasa ini juga mengalami kekerasan.
Para wartawan televisi dihalang-halangi untuk mengambil gambar. Bahkan, salah satu wartawan televisi swasta terkena pentungan dari massa pro-bupati yang hendak membubarkan unjuk rasa tersebut.(IDS/ANS)