Liputan6.com, Jakarta - MotoGP 2016 ditandai dengan berubahnya regulasi yang membuat persaingan dalam perebutan juara bertambah ketat. Regulasi yang berubah diantaranya pembatasan pemakaian Electronic Control Unit (ECU) menjadi satu merek dan volume bensin. Lalu ban resmi MotoGP pun berubah dari semula Bridgestone menjadi Michelin.
Advertisement
Perubahan regulasi membuat pembalap MotoGP termasuk para jagoan seperti Marc Marquez, Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo terkaget-kaget. Itu dirasakan saat para pembalap melakukan pengujian motor anyar sejak di Sepang atau Sirkuit Katalunya, Barcelona.
Perubahan paling mengagetkan yaitu hadirnya ban Michelin. Ternyata ban lansiran Prancis ini punya kekurangan pada grip roda depan. Ini membuat pembalap sering mengalami wheelie (ban terangkat) saat menikung. Beragam permasalahan pun dirasakan pembalap sehingga teknisi masing-masing tim harus putar otak untuk mengatasinya.
Di sisi lain, kekurangan dari Michelin justru membuat balapan menjadi menarik. Banyak kejutan terjadi di MotoGP 2016 karena ada 9 juara berbeda sepanjang musim.
Tapi, Marquez tetap menjadi yang terunggul diantara yang lainnya. Pembalap asal Katalunya ini punya motivasi lain sepanjang mengikuti balapan di 2016. Apakah itu? Dia ingin belajar dari kesalahan di MotoGP 2015.
Konsisten
Satu hal yang membuat Marquez selalu unggul yaitu karena keberhasilannya merebut poin di 18 seri yang dilombakan. Dari 18 seri, Marquez hanya gagal mencetak poin satu kali. Itu terjadi saat dia gagal melanjutkan lomba di MotoGP Australia di Sirkuit Philip Island.
Marquez jauh lebih sabar ketimbang di musim-musim sebelumnya. Baby Alien, julukannya, tahu betul jika poin lebih penting dari sekadar show off dan buka gas kencang-kencang tapi malah jatuh di tengah perlombaan. Musim ini, Marquez memang tidak dominan dalam merebut podium juara.
Dia hanya menang lima kali saja yaitu di Argentina, Amerika, Jerman, Aragon dan Jepang. Namun, dia sukses merebut 12 kali podium.