Liputan6.com, Makassar : Presiden SBY dalam pembukaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), memuji NU yang menjunjung tinggi toleransi beragama. "Muktamar NU dapat meneguhkan khittah NU sebagai organisasi pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan yang berhaluan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. NU memiliki budaya dan tradisi yang mulia untuk tidak mudah tergoda dan larut dalam politik praktis. Politik NU adalah politik yang berada pada tatanan nilai-nilai luhur, mengedepankan sejarahnya," tutur Presiden.
"Ke depan, keluarga besar NU diharapkan tetap melakukan politik adi luhung, politik bermartabat di jalan Allah SWT, dan terbebas dari perilaku politik yang jauh dari etika dan tata krama," ujar Kepala Negara. Lebih jauh Presiden berharap, kepada unsur pimpinan NU, tetap menebarkan keteduhan, kedamaian, dan keteladanan.
Muktamar ke-32 NU diselenggarakan dari 23 Maret hingga 28 Maret 2010 dihadiri oleh sekitar 4.500 peserta antara lain dari kepengurusan NU di seluruh Indonesia, organisasi atau lembaga di bawah NU, serta para pengamat. Muktamar itu sekaligus dilaksanakan untuk memilih ketua umum PB NU.
Hadir dalam pembukaan muktamar tersebut perwakilan ulama dari 48 negara, Menteri Agama Suryadharma Ali, serta mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (AIS)
"Ke depan, keluarga besar NU diharapkan tetap melakukan politik adi luhung, politik bermartabat di jalan Allah SWT, dan terbebas dari perilaku politik yang jauh dari etika dan tata krama," ujar Kepala Negara. Lebih jauh Presiden berharap, kepada unsur pimpinan NU, tetap menebarkan keteduhan, kedamaian, dan keteladanan.
Muktamar ke-32 NU diselenggarakan dari 23 Maret hingga 28 Maret 2010 dihadiri oleh sekitar 4.500 peserta antara lain dari kepengurusan NU di seluruh Indonesia, organisasi atau lembaga di bawah NU, serta para pengamat. Muktamar itu sekaligus dilaksanakan untuk memilih ketua umum PB NU.
Hadir dalam pembukaan muktamar tersebut perwakilan ulama dari 48 negara, Menteri Agama Suryadharma Ali, serta mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. (AIS)