Tumpek Wayang, Bakal Sedot Perhatian Wisman Tahun Baru di Bali

Tumpek wayang ini tradisi tahunan yang menjadi daya pikat wisatawan yang berbasis budaya.

oleh Liputan6 diperbarui 10 Des 2016, 11:08 WIB

Liputan6.com, Bali Bali tak ada surutnya untuk membuat atraksi wisata. Apalagi akhir tahun 2016 ini? Sebelum terompet Happy New Year 2016 ditiup, Anda bisa menyaksikan ritual desa-desa di Bali dengan tradisi Tumpek Wayang yang akan dilaksanakan secara serentak pada tanggal 31 Desember 2016. Ini tradisi tahunan yang menjadi daya pikat wisatawan yang berbasis budaya.

”Kesan tumpek wayang itu tidak akan terlupakan oleh para wisatawan, setiap desa akan melaksanakan Tumpek wayang. Seluruh kehidupan budaya masyarakat Bali, adalah atraksi yang memikat. Termasuk soal ritual keagamaan, yang di banyak tempat menjadi eksklusif dan tidak boleh dijadikan bahan tontonan. Di situlah salah satu daya tarik Bali bagi wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Silahkan datang ke Bali,” beber Kepala Dinas Pariwisata Bali AA Gede Agung Yuniartha.

Agung mengatakan, Tumpek Wayang adalah upacara bermakna sebagai hari kesenian. Hari tersebut dipercaya sebagai kelahiran berbagai jenis alat-alat kesenian semisal gender, gong, barong, wayang dan lainnya yang kerap digunakan untuk kepentingan hiburan. “Setiap tahun events ini selalu mendapat perhatian wisatawan mancanegara karena keunikan budayanya,” kata dia.

”Upacara ini digelar pada tiap 6 bulan sekali dalam sistem pengkalenderan Bali atau tiap 210 hari sekali yang termasuk dalam rentetan Hari Raya Galungan. Semua alat musik akan keluar. Nah, di sini daya tarik itu menjadi semakin kuat,” ujar Agung yang asli Bali itu. Menpar Arief Yahya memang meminta para Kadispar di seluruh Indonesia itu menggeber banyak kegiatan yang menundang perhatian wisman di penghujung tahun.

Di Bali menggelar kegiatan ritual Tumpek Wayang juga disertai dengan hiasan yang indah seperti rangkaian janur (banten) kombinasi bunga, kue dan buah-buahan. "Namun bagi seniman dalang wayang kulit, atau keluarga yang mewarisi seperangkat wayang kulit dari leluhurnya menggelar kegiatan ritual secara khusus dengan wayang tersebut harus dilaksanakan. Saya memprediksi ribuan orang akan berkumpul saat acara tersebut di setiap desa, wisatawan nusantara maupun wisatawan asing akan bersatu menikmati ritual yang unik dan menarik itu,” jelasnya.

Agung bersyukur wilayahnya dihuni oleh kreativitas masyarakat Bali yang sudah sangat sadara wisata. Apa saja yang dilakukan, dengan kebudayaan, pasti menjadi atraksi yang tidak ada duanya di dunia. “Kami akan jaga semaksimal mungkin semua tradisi di Bali,” kata Agung.

Selain Tumpek Wayang, Bali juga pesta di Denpasar. Perhelatan itu bertajuk Denpasar Festival 2016 yang rencananya akan digelar 28 hingga 31 Desember. Acara tersebut sudah dilaunching Kementerian Pariwisata (Kemenpar) di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, kantor Kemenpar, beberapa waktu lalu.

Walikota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan, Denpasar Festival 2016 merupakan festival tahunan yang rutin diselenggarakan tepat di jantung Kota Denpasar, ibukota Bali. Festival yang sudah ke-9 kalinya digelar ini, bisa dipastikan akan menyedot perhatian ribuan turis yang sedang liburan ke Bali.

Dharmawijaya, punya alasan khusus mengapa festival ini diselenggarakan tepat di peak season, alias saat Bali sedang ramai-ramainya diserbu wisatawan. Menurutnya, momen akhir tahun sangat pas untuk digelarnya Denpasar Festival karena pasti akan sangat ramai didatangi turis. ” Jadi momentumnya dapat atau pas dan acara akan meriah,” ujarnya.

Lebih lanjut Dharmawijaya mengatakan, penyelenggaraan Denpasar Festival berawal dari keinginan untuk mengingat kembali masa lalu suasana Jalan Gajahmada sebagai pusat ajang kreativitas warga Denpasar. “Semangat dan gairah kreativitas masyarakat Kota Denpasar menginspirasi Pemerintah Kota untuk membuat dan mengagendakan Gajah Mada Town Festival menjadi even kalender tahunan, sebagai aktualisasi terhadap dinamisasi peran serta masyarakat pada pelaksanaan tahun ke 2 Gajah Mada Town Festival berubah menjadi Denpasar Festival,” katanya.

(*)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya