Pertama di Dunia, Indonesia Bakal Deteksi Prediabetes Lewat Urine

Upaya mendeteksi prediabetes sedini mungkin agar tidak berkembang kronis ke diabetes akut lewat urine.

oleh Fitri Haryanti Harsono diperbarui 18 Nov 2016, 08:30 WIB

Liputan6.com, Jakarta Diabetes termasuk penyakit kronis yang dialami masyarakat di seluruh dunia. Tingkat penderita diabetes kian hari dialami orang muda berusia 30-an tahun. Peningkatan kasus diabates menjadi fokus utama para peneliti di Indonesia, salah satunya upaya mendeteksi prediabetes sedini mungkin agar tidak berkembang kronis ke diabetes akut.

Dr rer Nat Marselina Irasonia Tan dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung meneliti prediabetes dapat dideteksi lewat urine. Jika biasanya dideteksi lewat darah, urine menjadi terobosan baru pendeteksian prediabetes.

"Kita bisa mencegah prediabetes berkembang menjadi diabetes. Artinya, kita mencegah risiko seseorang mengarah ke diabetes dengan cara mendeteksi lebih dini. Itu akan lebih baik buat masyarakat," kata Marselina saat berbincang dengan Health-Liputan6.com usai acara The Breakthrough in Food and Nutrition Research for Better Diabetes Management and Prevention di Hotel Borobudur Jakarta, Jakarta Pusat, Kamis (17/11/2016).

Marselina tak menampik orang berpikir tidak ingin memeriksakan kadar gula. Sebagian besar orang bisa saja malas memeriksakan diri. Hal ini dikarenakan orang yang terkena prediabetes memang tidak merasakan sakit dan keluhan.

Bila seseorang sudah didiagnosis menderita prediabetes, yang akan berkembang ke diabetes, maka orang akan lebih aware. Orang akan berusaha mencari solusi diet.

Uji Coba Urine

Proses uji coba berupa mengisolasi urine. Proyek penelitian yang diketuai Marselina ini bekerja sama dengan Laboratorium Klinik Pramita. Sampel urine akan dikirim dari Klinik Pramita. Selanjutnya, tim Marselina akan memakai urine untuk uji coba.

"Uji coba ini sebenarnya masih belum dilakukan. Intinya, baru akan dilakukan nanti. Mengapa belum dilakukan? Karena penelitiannya butuh dana yang cukup tinggi. Ini mencoba mengisolasi eksosom (exosome), fragmen genetika dengan microRNA (molekul RNA)," jelas Marselina.

Dr rer Nat Marselina Irasonia Tan, peneliti prediabetes lewat urine (Foto: Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono)

Upaya mendeteksi prediabetes lewat urine ternyata belum pernah dilakukan di luar negeri. Oleh karena itu, proyek penelitian ini akan jadi sesuatu yang menantang karena di luar negeri saja belum ada apalagi di Indonesia.

"Saya berharap ada satu profil yang baru dan khas Indonesia. Ini akan menciptakan suatu profil berbeda karena kita (Indonesia) punya lifestyle (gaya hidup) yang berbeda dan cara makan yang berbeda. Jadi, diharapkan ada sesuatu yang baru, yang bisa kita propose (usulkan) ke masyarakat. Ternyata ada sesuatu yang baru buat dipakai," ungkap Marselina.

Deteksi Urine

Pendeteksian prediabetes antara darah dan urine mempunyai profil yang berbeda. Kadar gula yang meningkat bisa tak disadari orang karena tidak menimbulkan rasa sakit. Tak hanya diabetes yang kadar gula meningkat, seseorang yang mengalami prediabetes, kadar gula juga sudah meningkat.

Lain halnya dengan diabetes yang gejala penyakitnya amat dirasakan penderita. Orang yang mengalami prediabetes tidak merasakan apa pun gejala sakit. Padahal, kadar gula darah akan menyebabkan sel menjadi stres di dalam sirkulasi darah.

Dr rer Nat Marselina Irasonia Tan, prediabetes lewat urine belum pernah dilakukan di luar negeri (Foto: Liputan6.com/Fitri Haryanti Harsono)

"Ginjal kita penuh dengan pembuluh darah. Saya berharap, kemungkinan stres yang ditimbulkan gara-gara kadar gula meningkat itu akan menyebabkan profil urine eksosomnya berubah. Di dalam eksosom ada protein microRNA, ada kemungkinan disekresikan secara khusus oleh sel yang terkena stres," tutup Marselina.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya