Seruan Persatuan Indonesia Menggema di Berbagai Daerah

Pejabat, tokoh masyarakat, aparat, hingga seniman menyerukan toleransi dan kerukunan.

oleh Switzy Sabandar diperbarui 15 Nov 2016, 06:00 WIB

Liputan6.com, Sampit - Semangat menjaga persatuan dalam keragaman di Indonesia menguat di daerah-daerah. Para pejabat, tokoh masyarakat, militer, hingga seniman menyerukan kesadaran ber-Bhinneka Tunggal Ika, meski beda-beda tapi tetap satu Indonesia.

Para tokoh daerah di Provinsi Kalimantan Tengah diharapkan menjadi penyejuk dan pemersatu untuk menjaga kerukunan hidup masyarakat di tengah berbagai perbedaan.

"Para tokoh jangan menjadi 'kompor'. Masalah kecil jangan dibesarkan dan masalah besar diledakkan. Harus bisa menyejukkan dan menenteramkan," kata anggota DPR, Hang Ali Saputra Syahpahan, di Sampit, Kalimantan Tengah, Senin, 14 November 2016, seperti dilansir Antara.

Hang Ali datang ke Sampit bersama Wakil Gubernur Habib Said Ismail, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Kalteng Yohanes Freddy Ering, dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kalteng Berlin Sawal.

Mereka hadir di Sampit menjadi narasumber sarasehan pembauran kebangsaan. Menurut Hang Ali, tokoh agama, masyarakat, adat dan politik, menjadi panutan masyarakat. Peran mereka sangat strategis dan mudah meyakinkan masyarakat.

"Kita harus menjadi negara yang toleran. Tapi tentu masing-masing kita harus tahu bagaimana kita menyesuaikan diri dengan lingkungan, bukan lingkungan yang menyesuaikan dengan kita," kata legislator dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah.

Pendapat serupa disampaikan Freddy Ering. Pria yang juga anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah itu mengatakan, pembauran harus dilakukan sepenuhnya. Berbagai perbedaan jangan lagi dijadikan ego yang bisa memicu masalah.

"Kemajemukan dan keberagaman merupakan kekayaan yang sangat berharga. Ini harus dijaga, sedangkan potensi gangguannya harus diantisipasi," ujar Freddy.

Forum Pembauran Kebangsaan yang kini juga telah dibentuk di tingkat kabupaten, menjadi wadah bagi anak bangsa di daerah untuk saling mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia, termasuk di Kalimantan Tengah, terdiri dari beragam suku, agama, ras dan golongan.

Forum ini membantu menghimpun semua pihak untuk menjaga Bhinneka Tunggal Ika agar terus menjadi landasan kerukunan hidup masyarakat. Pembauran yang baik akan melahirkan semangat kebersamaan yang tinggi.

Sementara itu Wakil Gubernur Habib Said Ismail mengatakan, Forum Pembauran Kebangsaan memiliki peran sangat penting di tengah masyarakat Kalimantan Tengah yang majemuk. Forum ini menjadi wadah komunikasi seluruh tokoh untuk mengantisipasi dan mencari solusi bersama jika ada masalah.

"Pembauran suku, agama, ras dan antargolongan di Kalteng perlu ditingkatkan meski kehidupan kerukunan kita saat ini cukup baik. Saya berharap tokoh lintas suku dan agama sering berdiskusi," kata Ismail.

Jika semua orang memahami Bhinneka Tunggal Ika secara universal, dirinya yakin perpecahan tidak akan terjadi. Secara khusus dia menyinggung Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki tantangan besar dalam menjaga kerukunan karena daerah ini merupakan kota pelabuhan.

Berbagai suku, agama dan ras tinggal di daerah ini dengan masing-masing kebudayaan. Pesatnya pertumbuhan ekonomi Kotawaringin Timur juga bisa menjadi potensi munculnya masalah sosial.

Untuk itulah semua pihak diimbau untuk mengedepankan kebersamaan untuk bersama-sama menciptakan kedamaian dan kerukunan.

Aksi Seniman dan TNI

Sebelumnya, para seniman Yogyakarta rela melumuri sekujur tubuh mereka dengan cat tembok berwarna putih dan hitam di depan Tugu Jogja, Senin 7 November 2016. Sesekali mereka menggaruk kulit lengan atau wajah karena cat tembok membuat gatal.

Aksi yang dilakukan Keluarga Seni Pinggiran Anti Kapitalisasi (Kepal Genk) itu sebagai bentuk kegelisahan kasus-kasus sentimen SARA yang terjadi di Indonesia.

"Kami terganggu dengan aksi-aksi sentimen SARA itu," ujar Gonjez Mantopane, koordinator aksi.

Melalui art performance yang ditampilkan bersama dengan teman-temannya, ia ingin menunjukkan kehidupan ber-Bhinneka Tunggal Ika yang baik dan benar. Artinya, dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari perbedaan adalah anugerah dan bukan masalah.

"Hitam dan putih memang berbeda tetapi bukan alasan bermusuhan," ucap dia.

TNI Jaga Kerukunan

Sementara itu Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal TNI Sudirman mengatakan prajurit dalam jajarannya harus selalu menjaga kerukunan antar umat beragama yang telah tercipta selama ini.

Di samping itu, kedepankan kebersamaan sehingga hidup semakin damai, kata Pangdam dalam amanatnya yang disampaikan perwira ahli bidang sosial budaya Kolonel Inf Afianto di hadapan prajurit Kodam II/Sriwijaya di Palembang, Senin, 14 November 2016.

Selain itu, selalu bertoleransi dan menciptakan menciptakan hubungan yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Dia mengatakan, yang jelas dalam kehidupan bermasyarakat antar umat beragama harus saling menghormati dan menghargai.

Semangat hidup bertoleransi ini harus terus dijaga dan dipelihara sebagai bangsa yang majemuk, plural dan serba Bhinneka Tunggal Ika.

Dia mengatakan dalam konteks tersebut prajurit dan PNS di lingkungan Kodam Sriwijaya harus mampu menjadi teladan, pelopor dan pemersatu. Begitu juga adanya Pilkada serentak, Pangdam kembali mengingatkan, untuk tetap memegang teguh sikap netralitas TNI.

"Jangan ada pelanggaran sekecil apapun dan terlibat kegiatan politik praktis yang dapat merugikan pribadi maupun satuan," ujar dia.

Dia menegaskan TNI berkomitmen untuk tetap bersikap netral senetral-netralnya. Hal ini karena tugas TNI menjaga stabilitas keamanan sehingga tahapan pilkada serentak mendatang harus berjalan aman, damai dan lancar serta tidak ada gejolak maupun konflik.

Dalam kesempatan itu juga diingatkan agar selalu waspada serta mengantisipasi akan terjadi bencana banjir serta longsor saat musim penghujan sekarang ini.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya