Liputan6.com, Denpasar: Berbeda dengan sebagian besar warga di dunia, masyarakat Bali mempunyai tradisi unik untuk menyambut pergantian tahun. Tradisi tersebut adalah menggelar upacara adat melepas matahari terakhir 2001 dengan pesta rakyat. Selanjutnya, mereka menyambut terbitnya matahari awal 2002. Dalam perayaan kali ini, sejak Senin (31/12) petang, ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Bali berkumpul di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, untuk menutup 2001 dan menyambut tahun 2002.
Berdasarkan pemantauan SCTV, festival musik bleganjur atau gamelan yang khusus digunakan untuk prosesi keagamaan mengawali upacara tersebut. Dalam festival musik ini, 21 sekehe atau kelompok turut memeriahkannya. Untuk melepas matahari terakhir 2001 dan menyambut matahari terbit pertama 2002 ini, setiap sekehe melakukan prosesi mengelilingi tugu atau patung catur muka atau empat muka yang menghadap ke segenap penjuru mata angin, yaitu timur, barat, utara, dan selatan. Bagi mereka, catur muka adalah lambang keseimbangan. Menurut seorang peserta, prosesi tersebut dimaksudkan untuk memohon keseimbangan dari Sang Hyang Widi Wasa agar bumi dan jagad raya ini selalu seimbang dan damai.
Acara menyambut 2002 ini berlangsung tertib dan dilanjutkan doa bersama dari seluruh umat beragama, yaitu Hindu, Budha, Protestan, Katolik, dan Islam. Doa bersama itu dilangsungkan tepat pukul 00.00 WITA. Sementara itu, malam menjelang Tahun Baru di Bali seperti tahun-tahun sebelumnya secara alami terpusat di Pantai Kuta, Denpasar. Akibatnya, sejak petang, ruas jalan menuju Pantai Kuta macet total.(ANS/Yudah Prakoso dan Iwan Gunawan)
Berdasarkan pemantauan SCTV, festival musik bleganjur atau gamelan yang khusus digunakan untuk prosesi keagamaan mengawali upacara tersebut. Dalam festival musik ini, 21 sekehe atau kelompok turut memeriahkannya. Untuk melepas matahari terakhir 2001 dan menyambut matahari terbit pertama 2002 ini, setiap sekehe melakukan prosesi mengelilingi tugu atau patung catur muka atau empat muka yang menghadap ke segenap penjuru mata angin, yaitu timur, barat, utara, dan selatan. Bagi mereka, catur muka adalah lambang keseimbangan. Menurut seorang peserta, prosesi tersebut dimaksudkan untuk memohon keseimbangan dari Sang Hyang Widi Wasa agar bumi dan jagad raya ini selalu seimbang dan damai.
Acara menyambut 2002 ini berlangsung tertib dan dilanjutkan doa bersama dari seluruh umat beragama, yaitu Hindu, Budha, Protestan, Katolik, dan Islam. Doa bersama itu dilangsungkan tepat pukul 00.00 WITA. Sementara itu, malam menjelang Tahun Baru di Bali seperti tahun-tahun sebelumnya secara alami terpusat di Pantai Kuta, Denpasar. Akibatnya, sejak petang, ruas jalan menuju Pantai Kuta macet total.(ANS/Yudah Prakoso dan Iwan Gunawan)