Top 3: Miris, Siswa Urakan Hina Guru di Makassar

Tanpa canggung, siswa berinisial AS itu merokok, bahkan menaikkan kaki di atas meja saat guru Bahasa Indonesia tengah mengajar.

oleh Fajar Eko NugrohoFauzan diperbarui 13 Okt 2016, 21:11 WIB
Tanpa canggung, siswi berinisial AS itu bahkan menaikkan kakinya di atas meja saat guru Bahasa Indonesia tengah menerangkan.

Liputan6.com, Makassar - Seperti inilah potret pendidikan jaman sekarang. Ketika murid tidak bisa lagi menghormati gurunya.

Foto seorang pelajar SMA di Makassar yang tidak sopan merokok di samping gurunya menjadi viral di media sosial.

Tanpa canggung, siswa berinisial AS itu bahkan menaikkan kakinya di atas meja saat guru Bahasa Indonesia tengah menerangkan.

Kabar ini menjadi berita yang paling banyak menyita perhatian pembaca Liputan6.com, terutama di kanal Regional, Kamis (13/10/2016).

Selain itu, ada pula kabar tentang pengikut Dimas Kanjeng yang menjadi penasihat Istana Negara menjadi berita yang tak kalah diburu. Dan rahasia umur panjang penghuni rumah kayu di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Berikut berita populer selengkapnya yang terangkum dalam Top 3 Regional:

1. Siswa Urakan Merokok Dekat Guru Jadi Viral di Medsos

Sang siswa mengaku melakukan aksi yang menghina gurunya tersebut hanya sebagai bahan candaan semata. (Liputan6.com/Fauzan)

Pengguna media sosial atau medsos dibuat gempar oleh ulah seorang siswa yang berfoto di samping gurunya dengan pose menghina. Sang siswa bahkan menaikkan kaki di atas meja dan merokok.

Belakangan diketahui sang pelajar tersebut adalah siswa SMA Yayasan Ilham, yang terletak di jalan Toddopuli VI, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.

Saat ditemui, direktur pendidikan sekolah tersebut, Usman Effendi membenarkan mengenai foto yang menghina guru itu. Dia mengakui siswa yang ada dalam foto tersebut adalah siswanya.

Soal foto AS yang merokok tepat di samping gurunya, Usman Effendi menjelaskan awalnya AM tidak menyadari kalau muridnya itu merokok.

"Saya khilaf, Sebenarnya cuma iseng-iseng awalnya," kata AS.

Ditemui secara terpisah, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang foto bersama AS, AM, mengatakan ia sempat kesal melihat apa yang dilakukan siswanya tersebut.

"Saya sempat tegur waktu dia naikkan kakinya ke atas meja, kemudian dia turunkan, lalu dinaikkan lagi," AM menjelaskan.

Selengkapnya...

2. Pemimpin Dimas Kanjeng Jadi Penasihat Istana Negara?

Di dalam rumah salah satu pengikut Dimas Kanjeng ditemukan kartu Tim Khusus Istana Negara. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Gurita pengaruh Dimas Kanjeng Taat Pribadi menjalar sampai Brebes. Salah satu murid Dimas Kanjeng asal Brebes adalah Makdum (52).

Dia juga menjadi koordinator jika ada warga yang ingin menitipkan uang untuk digandakan.

Untuk menjerat korban, murid Dimas Kanjeng sengaja memperlihatkan foto-foto Taat Pribadi bersama sejumlah pejabat tinggi, seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan mantan Kabaintelkam Mabes Polri Komjen (Purn) Suparni Parto.

Bahkan, di dalam sebuah rumah salah seorang pengikut Dimas Kanjeng ditemukan juga kartu "Tim Khusus Istana Negara" pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat 2014 lalu.

Selengkapnya...

3. Rahasia Umur Panjang Penghuni Rumah Kayu 500 Tahun di Kampung Toa

Tua Bitombang, kampung peninggalan sejarah dengan arsitektur kuno di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. (Liputan6.com/Fauzan)

Tak lengkap jika Anda berkunjung ke Pulau Selayar yang terkenal dengan Taka Bonerate-nya, lalu tak mengunjungi Kampung Toa Bitombang.

Toa Bitombang adalah sebuah kampung peninggalan sejarah dengan arsitektur kuno di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Perkampungan ini berada di atas ketinggian menampilkan pemandangan alami yang memesona dengan bentangan topografi alam berundak dan berbukit.

Ada banyak cerita tentang alasan mengapa rumah-rumah di Kampung Toa Bitombang harus tinggi. Di antaranya karena banyaknya pencuri pada zaman dulu dan menunjukkan panjang umurnya masyarakat Toa Bitombang.

Untuk mendirikan rumah di perkampungan Toa Bitombang ini tidak bisa sembarangan. Ritual ini menurut penjelasan dari penduduk desa disebut dengan jampi-jampi.

"Jadi jangan kaget kalau ke kampung ini kamu melihat warga yang sudah tua, tapi masih gesit dalam bercocok tanam," ujar ilham.

"Pada 1930, kampung ini justru menyumbangkan jemaah terbanyak dari Selayar menuju Tanah Suci Mekah," kata lelaki berusia 70 tahun yang sudah menjabat sebagai kepala dusun selama 40 tahun itu.

Selengkapnya...

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya