Mensos: Mau Punya Banyak Uang Kerja, Jangan Ikutan Dimas Kanjeng

Mensos Khofifah mengatakan, tidak ada cara instan untuk mencapai kesuksesan.

oleh Liputan6 diperbarui 08 Okt 2016, 19:24 WIB
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta- Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa turut berkomentar mengenai kasus penipuan yang dilakukan Dimas Kanjeng Taat Pribadi dengan modus penggandaan uang. Khofifah berharap agar masyarakat tak terpengaruh berbagai modus penipuan tersebut.

Dia mengingatkan, bila ingin mendapatkan uang, seseorang harus berupaya meraihnya dengan kerja keras, bukan terpengaruh cara-cara instan seperti penggandaan uang.

"Jangan ikut-ikutan seperti Dimas Kanjeng. Mau punya uang banyak, kemudian digandakan. Ingin punya banyak duit, tetapi tidak punya etos kerja. Jangan seperti itu," ujar Khofifah usai menyampaikan kuliah umum di Universitas Negeri Semarang (Unes) Jawa Tengah, Sabtu (8/10/2016).

Khofifah mengatakan, tidak ada cara instan untuk mencapai kesuksesan. Menurut dia, pencapaian itu diraih hanya dengan kerja keras dan bertindak profesional. Namun demikian, ia tak menampik ada kalangan terpelajar yang terpengaruh cara instan penggandaan uang seperti yang dilakukan Dimas Kanjeng.

"Harus punya integritas, kerja keras, dan gotong royong. Ini basis revolusi mental. Lupakan pola-pola seperti Dimas Kanjeng yang katanya tanpa kerja keras, uang bisa dilipatgandakan," kata Khofifah seperti dilansir dari Antara.

Lebih lanjut, Khofifah mengatakan orang harus bisa membedakan mana yang palsu dan mana yang tergolong sebagai trik sulap, agar tidak mudah terpengaruh oleh pola-pola penggandaan uang yang menawarkan solusi instan.

"Kalau antara palsu dan sulap tidak bisa membedakan, ya tergoda. Sulap itu orang tahu kalau itu trik. Bukan memberikan janji kesejahteraan ke depan. Itu palsu," tegas dia.

Ia pun menilai, modus penipuan dengan penggandaan uang sangat tidak masuk akal. Sebab, tiap uang yang dibuat tak akan lepas dari pengawasan lembaga resmi pencetak uang, yaitu Perum Percetakan Uang RI (Peruri) dan Bank Indonesia sebagai penentu jumlah uang yang dicetak.   .

"Jika masing-masing individu punya kemampuan menggandakan uang, akibatnya tidak hanya berdampak pada inflasi tinggi, tetapi bisa merusak cash flow keuangan pemerintah," papar Khofifah.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya