Poresima, Si Petir Kecil Pembersih Udara Kotor

Poresima memanfaatkan teknologi surya dan baterai sebagai sumber energi untuk mereduksi polutan dari udara.

oleh Switzy Sabandar diperbarui 08 Okt 2016, 16:02 WIB
Poresima memanfaatkan teknologi surya dan baterai sebagai sumber energi untuk mereduksi polutan dari udara. (Liputan6.com/Switzy Sabandar)

Liputan6.com, Yogyakarta - Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menciptakan alat yang mampu mereduksi kadar polutan dari udara. Alat bertenaga hibrid itu diklaim mampu mengurangi polutan gas CO2 sebesar 65,5% dan gas CO sebesar 66,1%.

Namanya Poresima, merupakan kependekan dari Polutan Reduction with Plasma atau dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai pereduksi polutan di jalan raya bertenaga hibrid. Alat ini masih dalam bentuk prototipe berdimensi 60 x 50 x 45 sentimeter.

Haris Erdyanto dan Danang Wahyu Prasetyo dari prodi pendidikan Teknik Elektro, mahasiswa Teknik Elektronika Pandu Gaung Vashu Deva, mahasiswi Pendidikan Fisika Siti Masrifatun Azahro, serta mahasiswi Pendidikan Kimia Anik Nur Laili, memanfaatkan dana hibah Dikti sebesar Rp 7,5 juta untuk menciptakan Poresima.

Penciptaan alat ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya volume kendaraan di jalan raya yang berkontribusi terhadap pencemaran udara. Meningkatnya polusi yang ada di jalan raya turut membawa dampak buruk bagi kesehatan, antara lain, penyakit asma, bronkhitis bahkan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

"Kami berpikir untuk mengembangkan teknologi ramah lingkungan pengendali polusi udara," ujar Haris, ketua tim, Kamis, 6 Oktober 2016.

Andalkan Sensor

Ia memanfaatkan teknologi plasma yang dilengkapi sensor peka gas polutan sebagai pengendali plasma dan menggunakan sumber tenaga ramah lingkungan yang dihasilkan dari sel surya.

Cara kerja dari alat yang memiliki komponen plasma, transformator flyback, sel surya dan sensor asap MQ-135 ini adalah mendeteksi keberadaan udara kotor.

Poresima memanfaatkan teknologi surya dan baterai sebagai sumber energi untuk mereduksi polutan dari udara. (Liputan6.com/Switzy Sabandar)


Sensor berfungsi untuk menghidupkan blower dan pembangkit plasma sehingga udara kotor tersebut masuk ke dalam tabung plasma. Sumber energi listrik yang digunakan pada alat ini berasal dari sel surya dan juga baterai.

Listrik yang dihasilkan oleh sumber energi kemudian dihubungkan dengan transformator flyback untuk membangkitkan tegangan tinggi. Tegangan listrik yang besar dihubungkan ke tabung plasma untuk memberikan perlakuan pada gas yang masuk dalam tabung.

Dalam tabung plasma, udara kotor, seperti gas CO, CO2, dan NO2, mengalami pemisahan ikatan-ikatan molekul gas. Proses pemisahan tersebut mengakibatkan terjadinya ionisasi atau radikal pada molekul gas, sehingga terbentuk ion-ion, elektro, dan radikal bebas yang berenergi.

Sementara, udara yang keluar dari tabung plasma adalah udara yang kadar CO2-nya telah berkurang.

"Secara umum, kami membuat sebuah plasma (petir kecil) dari transformator bertegangan tinggi. Plasma tersebut digunakan untuk memecah molekul-molekul udara kotor. Molekul udara kotor tersebut bereaksi dengan molekul lain dan membentuk oksigen," kata Haris.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya