Ikut Pulang Kampung Massal ke Malut, Pejabat Jakarta Nangis

Malam itu keharuan membahana di sana. Tak sedikit di antara mereka sudah tidak saling mengenal.

oleh Hairil Hiar diperbarui 13 Sep 2016, 21:21 WIB
(Hairil Hiar/Liputan6.com)

Liputan6.com, Tidore Kepulauan - Ribuan warga perantau asal Mareku, Tidore Utara, Tidore Kepulauan, Maluku Utara, memadati lapangan Sangaji Jiko Malofo. Para perantau itu berkumpul pada Hari Raya Idul Adha 12 September 2016 kemarin.

Kepulangan mereka bertepatan dengan momen Mareku panggil pulang atau rarogam. Rarogam memiliki makna 'pulang kembali melihat kampung atau keluarga setelah sekian lama berada di perantauan'. Ada sekitar empat ribu orang yang hadir dalam acara itu.

"Keluarga Mareku yang datang sebagian besar sudah hidup di Ternate, Halmahera, Papua, Kendari, Manado, Makassar, Jawa, dan Jakarta. Mereka semuanya datang kembali untuk niatan berjumpa dengan keluarga di Mareku," kata koordinator rarogam Mahmud Ibrahim kepada Liputan6.com di Kota Tidore Kepulauan, Senin malam, 12 September 2016.

"Raro, yaitu orang-orang Mareku yang berada di luar, mereka rindu pulang ke Mareku. Kampung yaitu gam. Jadi rarogam itu pulang kampung atau Mareku panggil pulang," kata dia.

Malam itu keharuan membahana di sana. Tak sedikit di antara mereka sudah tidak saling mengenal.

"Warga Mareku yang hadir terharu karena semuanya berkumpul. Walaupun masih ada yang belum sempat. Kegiatan ini sekaligus mencairkan perbedaan-perbedaan yang sebelumnya terjadi," ujar Mahmud.

Dia mengatakan rarogam yang dihadiri banyak orang ini merupakan yang pertama kalinya digelar. Tak seperti sebelumnya, rarogam kali ini cakupannya lebih luas.

"Kalau yang dilaksanakan ini jauh berbeda dengan sebelumnya, karena sudah diformalkan dan dihadiri banyak orang dari seluruh daerah yang berasal dari Kampung Mareku," kata dia.

Hasan Basri, salah satu perwakilan sesepuh Mareku yang turut hadir membawa keluarganya dari Jakarta, merasa bersyukur karena kepulangannya bertepatan dengan momen rarogam.

"Kita datang ke sini untuk berjumpa dengan keluarga. Tentunya saya bersyukur bisa bertepatan dengan rarogam ini," ujar Hasan yang merupakan anggota DPRD DKI Jakarta.

"Kalau rarogam ini skopnya kampung, sebuah kelurahan kecil yang dapat mendatangkan keluarganya di mana-mana. Ini bagi saya sesuatu yang luar biasa," kata Basri, sembari meneteskan air matanya, karena dapat bertemu dengan keluarga besar yang sekian lama berpisah.

Dari pertemuan tersebut, warga bersepakat mencanangkan pelaksanaan rarogam tiga tahun sekali. Dengan demikian, rarogam selanjutnya bakal digelar pada 2019 mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya