Negara Ini Anggap Pokemon Go 'Iblis', Kenapa?

Setelah Tiongkok, kini giliran Rusia yang menganggap bahwa Pokemon Go bisa merusak negara dan masyarakatnya. Kenapa?

oleh Agustin Setyo Wardani diperbarui 01 Agu 2016, 17:30 WIB
Pokemon Go adalah game berbasis lokasi dan augmented reality yang dikembangkan oleh Niantic

Liputan6.com, Jakarta - Pokemon Go dianggap oleh sebagian besar orang sebagai gim menyenangkan untuk dimainkan. Meski begitu, beberapa negara di dunia justru skeptis menanggapi kehadiran permainan mobile besutan Niantic Labs ini.

Sebut saja Arab Saudi yang dikabarkan mengeluarkan fatwa larangan bermain Pokemon Go, meskipun kini telah dibantah. Lalu, Tiongkok yang menyebut Pokemon Go bisa mengungkapkan rahasia keamanan militer negaranya.

Kini giliran Rusia yang kabarnya menganggap Pokemon Go sebagai gim "iblis". Seperti Tekno Liputan6.com kutip dari Ubergizmo, Senin (1/8/2016), beberapa media di Rusia memberitakan pemerintah setempat menganggap bahwa Pokemon Go berpotensi digunakan sebagai alat untuk memata-matai negara beruang merah itu.

Pemerintah Rusia berasumsi bahwa aplikasi tersebut dibuat dengan keterlibatan badan inteligen Amerika Serikat CIA.

Seorang Mayor Jenderal Federal Security Service, Aleksander Mikhailov, membocorkan alasan Pokemon Go disebut "iblis" kepada kantor berita RIA Novosti.

“Bayangkan jika makhluk kecil itu (Pokeman) tak muncul di beberapa taman, tetapi di lokasi rahasia saat wajib militer, kemudian tentara mengambil fotonya dengan kamera. Ini artinya ada perekrutan tanpa paksaan. Ini adalah cara ideal bagi sebuah inteligen untuk menggali informasi," kata Mikhailov.

Senior Russian Security Official Franz Klintsevich kepada kantor berita TASS mengatakan, dirinya merasa iblis datang melalui permainan ini dan mencoba menghancurkan Rusia dari dalam.

Tak hanya itu, dilaporkan pula bahwa untuk merespons gim tersebut, pemerintah telah membuat permainan yang memungkinkan penggunanya untuk menemukan tokoh-tokoh sejarah di sekitar Moscow.

(Tin/Isk)

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya