Sepi Sentimen, Harga Emas Melemah

Saat ini belum ada sentimen utama yang mendorong pergerakan harga emas dunia.

oleh Agustina Melani diperbarui 19 Jul 2016, 06:40 WIB
Ilustrasi logam mulia

Liputan6.com, London - Harga emas turun hampir satu persen di awal pekan seiring bursa Eropa menguat. Hal itu lantaran investor tetap tenang meski sempat ada aksi kudeta di Turki.

Di pasar spot pada awal perdagangan, harga emas berada di level terendah US$ 1.323,70 per ounce. Harga emas pun turun 0,7 persen menjadi US$ 1.327,15.

Namun di perdagangan Amerika Serikat (AS), harga emas untuk pengiriman Agustus naik tipis 0,1 persen ke level US$ 1.328,70 per ounce. Penguatan harga emas lantaran belum ada sentimen utama yang mendorong pergerakan harga emas.

Selain itu, bursa saham Amerika Serikat menguat juga mempengaruhi harga emas. Sedangkan harga perak untuk pengiriman September turun US$ 0,085 menjadi US$ 20,08 per ounce.

Aksi kudeta militer membuat Turki melakukan tindakan keras terhadap pendukung kudeta milier. Pemerintah pun menyatakan kalau negara dan ekonomi dalam keadaan terkontrol.

Harga emas sempat berbalik arah ke level tertinggi usai berita kudeta Turki pada Jumat. Hal itu lantaran investasi emas sebagai investasi lebih aman.

"Emas selalu menjadi pelabuhan aman selama ketidakstabilan politik dan pasar dalam kekacauan. Namun setelah harga logam itu menembus level support US$ 1.330 per ounce membuat harga emas lebih rendah karena situasi di Turki "stabil" dan tidak ada berita baru lagi," kata Analis ActivTrades Carlo Alberto De Case seperti dikutip dari laman Reuters, Selasa (19/7/2016).

Harga emas sempat naik US$ 100 dalam dua minggu seiring keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa. Kenaikan harga emas lantaran kekhawatiran investor sehingga memilih emas sebagai investasi lebih aman sebelum kembali jatuh.

Di pasar uang, dolar Amerika Serikat naik 0,1 persen terhadap enam mata uang utama. Pelaku pasar mengharapkan bank sentral dapat memberikan stimulus sehingga berdampak ke bursa saham.

"Pelaku pasar telah membentuk harapan kalau bank sentral di seluruh dunia harus menyertakan paket stimulus lebih dalam ke kebijakan moneter mereka yang mengarah ke risiko penguatan aset," kata Mark To, Kepala Riset Wing Fung Financial Group.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya