Liputan6.com, Rangkasbitung - Sepak bola olahraga universal. Siapa pun gemar memainkan si kulit bundar. Tua, muda, pria, dan wanita tergila-gila padanya. Tak harus jadi pemain, menonton pertandingannya saja juga sudah bikin candu. Wajar bila olahraga sebelas lawan sebelas ini menjelma jadi industri, termasuk di Indonesia.
Miliaran rupiah digelontorkan demi membentuk klub. Pemain-pemain bintang direkrut agar lebih kompetitif. Dibalut fanatisme suporter, sepak bola pun berubah jadi tontonan yang gemerlap.
Baca Juga
- Leicester Gelar Parade Juara di Tengah Kota
- Rapor Bagus, Modal Kiper Atletico Hadapi Final Liga Champions
- Pensiun, Abbiati Sampaikan Salam Perpisahan di AC Milan
Advertisement
Namun jauh dari ingarbingar sepak bola Tanah Air, si kulit bundar juga menggelinding hingga ke Desa Kanekes, Leuwidamar, Rangkasbitung. Desa yang mati-matian menahan gempuran modernitas. Desanya orang Baduy, para petapa yang hidup tanpa listrik dan deru mesin di kaki Gunung Kendeng.
Saat malam tiba, terang dan gelap terpisah oleh gerbang "Selamat Datang" di pintu masuk menuju Desa Baduy. Letaknya di ujung Desa Kanekes, dekat Terminal Ciboleger, Leuwidamar, Rangkasbitung. Dari ibu kota Jakarta, bisa ditempuh dengan empat jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.
Malam hari, cahaya dari lampu-lampu bertenaga listrik menerangi jalanan berbatu di depan gerbang. Namun di belakang, pemandangan berangsur pekat. Cahaya dari lampu tenaga surya temaram di beberapa rumah kayu. Keluarga berkumpul di teras menikmati santap malam seadanya. Pria dan wanita masih terlihat hilir mudik di jalan kampung.