Jejak Si Kulit Bundar di Negeri Para Petapa

Jauh dari ingarbingar sepak bola Tanah Air, si kulit bundar juga menggelinding hingga ke Desa Kanekes, Leuwidamar, Rangkasbitung.

oleh Marco TampubolonDiterbitkan 17 Mei 2016, 06:30 WIB
Anak-anak Baduy bermain sepak bola

Liputan6.com, Rangkasbitung - Sepak bola olahraga universal. Siapa pun gemar memainkan si kulit bundar. Tua, muda, pria, dan wanita tergila-gila padanya. Tak harus jadi pemain, menonton pertandingannya saja juga sudah bikin candu. Wajar bila olahraga sebelas lawan sebelas ini menjelma jadi industri, termasuk di Indonesia.

Miliaran rupiah digelontorkan demi membentuk klub. Pemain-pemain bintang direkrut agar lebih kompetitif. Dibalut fanatisme suporter, sepak bola pun berubah jadi tontonan yang gemerlap.

 

Baca Juga

  • Leicester Gelar Parade Juara di Tengah Kota
  • Rapor Bagus, Modal Kiper Atletico Hadapi Final Liga Champions
  • Pensiun, Abbiati Sampaikan Salam Perpisahan di AC Milan

 

Namun jauh dari ingarbingar sepak bola Tanah Air, si kulit bundar juga menggelinding hingga ke Desa Kanekes, Leuwidamar, Rangkasbitung. Desa yang mati-matian menahan gempuran modernitas. Desanya orang Baduy, para petapa yang hidup tanpa listrik dan deru mesin di kaki Gunung Kendeng.

Masyarakat Suku Baduy Luar mulai berjalan membawa hasil kebun dan sawah di Kampung Kadu Ketug, Kabupaten Lebak, Banten (13/05). Mereka berjalan ke Ciboleger naik angkutan umum. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Saat malam tiba, terang dan gelap terpisah oleh gerbang "Selamat Datang" di pintu masuk menuju Desa Baduy. Letaknya di ujung Desa Kanekes, dekat Terminal Ciboleger, Leuwidamar, Rangkasbitung. Dari ibu kota Jakarta, bisa ditempuh dengan empat jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Malam hari, cahaya dari lampu-lampu bertenaga listrik menerangi jalanan berbatu di depan gerbang. Namun di belakang, pemandangan berangsur pekat. Cahaya dari lampu tenaga surya temaram di beberapa rumah kayu. Keluarga berkumpul di teras menikmati santap malam seadanya. Pria dan wanita masih terlihat hilir mudik di jalan kampung.

Lanjut Baca:

Sosoknya terlihat samar saat terkena sinar redup dari rumah bambu, sebelum hilang ditelan pekatnya malam. Selamat Datang di Baduy! Dalam gelap, yang terbayang mengenai Baduy adalah keterbelakangan. Suku terasing dengan 1001 satu pantangan berikut kutukan bagi yang melanggarnya. Setiap gerak seperti meraba. Bahkan untuk sekedar menyapa orang-orang yang masih terjaga. Apakah mereka masih paham bahasa Indonesia? Namun bayangan itu seketika lenyap saat matahari bangun dari tidurnya. Di perkampungan Baduy Luar, modernisasi tampak jelas menghunjam. Tidak ada lagi tatapan asing kepada para pendatang. "Mangga," balas orang Baduy saat pejalan kaki mengucapkan "Permisi" di hadapan mereka. Kesibukan tampak seperti kampung pada umumnya. Orang-orang mulai ke ladang. Ibu-ibu penenun mulai duduk di teras. Sedangkan yang menjadi porter setia menunggu pikulan di gerbang desa. Warung menjamur. Telepon genggam juga mudah ditemukan. Baju hitam-hitam dengan ikat kepala biru kini berbaur dengan kaus dan kemeja. Jejak si kulit bundar mulai tersingkap dalam keseharian orang Baduy Luar. Di tali-tali jemuran warga, baju adat Baduy Luar kini bersanding dengan replika kostum berkualitas KW tim-tim elite Eropa seperti Manchester United, Chelsea, Arsenal, Barcelona, hingga Real Madrid. Begitu juga di jalanan. Lebih jauh ke tengah hutan, demam bola juga masih terasa. Anak-anak kecil riuh di tanah kosong sebelah rumah di kampung Kadujangkung. Mereka menendang bola plastik yang tak lagi bundar. Dua gawang dari ranting pohon ditancapkan di tanah. Tanpa alas kaki. Sesekali bocah-bocah Baduy Luar tersebut tertawa geli melihat temannya yang terjatuh saat menggiring bola. Baju hitam-hitam khas Baduy juga sudah mereka tanggalkan, diganti seragam Barcelona, Chelsea, dan Arsenal. "Di sini anak-anak kecil suka main bola. Kadang pakai bola karet atau bola plastik," ujar salah seorang warga Baduy di Kadu Jangkung kepada Liputan6.com beberapa waktu lalu. Demam bola ternyata jauh merasuk ke tengah hutan. Di kampung Gazebo, salah satu permukiman tertua bagi suku Baduy Luar, jejak si kulit bundar masih bisa ditemui. Salah satu tanah kosong di tepi Sungai Ciujung menjadi bukti sulitnya membendung olahraga sebelas lawan sebelas tersebut. Sore hari, lapangan dengan gawang dari bambu ini juga ramai dipakai anak-anak Baduy bermain bola. Lapangan ala kadarnya juga sempat hadir di Keduketuk. Di sini, tak hanya anak-anak kecil yang menyepak bola. Pemuda-pemuda di sana juga tergila-gila pada si kulit bundar. Namun sekarang lapangan sudah tak ada dan kembali ke jalan berbatu. "Saya dulu pemain bola. Kami biasa bermain di sini," kata Udil, penduduk Kaduketuk yang piawai memainkan alat musik tradisional Baduy. Udil kini tak lagi bermain bola. Usaha barunya melestarikan alat-alat musik tradisional menyita waktunya. Selain itu, Udil mulai alergi bola saat olahraga ini mulai memercikkan api perselisihan. Menurut Mulyono, salah seorang tokoh pemuda di Baduy Luar, sepak bola memang bukan olahraga baru bagi mereka. Menurut dia, hampir setiap kampung sempat punya tim kecil-kecilan. Awalnya mereka hanya bermain di lapangan-lapangan pinggiran rumah yang ada di wilayah Baduy Luar. Namun lama kelamaan mereka pun mulai berani ke luar kampung dan melawan tim dari desa lain. "Dulu saya dan teman-teman ikut membantu membelikan sepatu bola bagi rekan-rekan yang tidak punya. Setelah itu, kami mulai berani bertanding ke luar kampung Baduy," kata Mulyono. Mul, sapaan akrabnya, merupakan pendiri Toe Mas. Tim yang dihuni oleh pemain-pemain Baduy. Menurut Mul, tim yang dikelola secara swadaya ini bahkan sempat menempati posisi runner-up di turnamen antarkampung (tarkam). "Dulu pernah juara dua kejuaraan futsal," kata Mulyono. "Kami juga pernah ikut Bupati Cup hingga ke Serang," ujarnya menambahkan.

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya