JK: Tak Ada Poros dalam Munaslub Golkar

JK memang tidak mau menyebutkan siapa jagoan yang diharapkan memimpin Golkar pada Munaslub kali ini.

oleh Ahmad Romadoni diperbarui 13 Mei 2016, 17:25 WIB
Wapres Jusuf Kalla saat menutup Rapimnas Partai Golkar 2016, Jakarta, Senin (25/1/2016). Salah satu hasil Rapimnas adalah akan diselenggarakannya Munaslub Golkar 2016 (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak mau terlalu terlibat dalam dinamika politik pada Munaslub Golkar. Termasuk soal kabar beda pendapat antara dia dan Menko Polhukam yang juga politikus Golkar, Luhut Binsar Pandjaitan.

JK menegaskan, calon ketua umum Golkar kali ini jumlahnya mencapai 8 orang. Dengan kondisi ini, sulit rasanya membentuk poros tertentu kecuali calonnya hanya merujuk pada 2 calon.

"Tidak ada poros Golkar karena banyak calon, kalau dua calon mungkin ada poros. Tapi kalau ini 8 calon, bagaimana caranya?" ujar JK di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (13/5/2016).

JK memang tidak mau menyebutkan siapa calon jagoannya pada Munaslub kali ini. Hanya saja sebagai mantan ketua umum, dia punya harapan agar ketua umum Golkar yang baru nanti harus membawa Golkar ke arah lebih baik.

 

"Saya juga tentu mempunyai pikiran-pikiran termasuk bahwa harus dipimpin oleh ketua yang baik dan dapat membesarkan Golkar. Tentu yang lain juga punya penilaian, itu saja," singkat JK.

Politikus senior Golkar, JK dan Luhut ini memang tidak bisa dipandang sebelah mata. JK beberapa waktu lalu disambangi langsung oleh seorang calon ketua umum yang juga Ketua DPR Ade Komarudin. Dalam pertemuan itu secara gamblang pria yang karib disapa Akom itu meminta restu kepada JK.

Sementara, kedekatan Luhut dengan calon ketua umum Golkar Setya Novanto semakin terlihat saat muncul kabar pencatutan nama Presiden Joko Widodo terkait dukungan kepada Setnov. Kabarnya, Luhut yang menjamin dukungan Jokowi terhadap Setnov, walaupun belakangan dibantah Luhut.

Saat ini Golkar akan memilih 1 dari 8 caketum yang sudah terdaftar. Mereka adalah Aziz Syamsuddin, Mahyudin, Setya Novanto, Ade Komarudin, Syahrul Yasin Limpo, Airlangga Hartarto, Indra Bambang Utoyo, dan Priyo Budi Santoso.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya