VIDEO: Detik-detik Kedatangan Sandera WNI di Bandara Halim

Meski sebagian besar pihak keluarga sudah berdatangan dan siap membawa, mereka harus bersabar.

oleh Liputan6 diperbarui 02 Mei 2016, 07:33 WIB
Meski sebagian besar pihak keluarga sudah berdatangan dan siap membawa, mereka harus bersabar.

Liputan6.com, Jakarta - Pesawat carteran yang membawa 10 korban penyanderaan oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu 1 Mei 2016, tengah malam.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Senin (2/5/2016), begitu turun dari pesawat mereka langsung disambut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Mensesneg Pratikno.

Kesepuluh orang yang disandera lebih dari sebulan lalu itu tidak langsung diserahterimakan kepada pihak keluarga. Mereka dibawa ke RSPAD Gatot Subtoro Jakarta Pusat untuk menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan.

Meski sebagian besar pihak keluarga sudah berdatangan dan siap membawa, mereka harus bersabar.

Menurut Menlu Retno Marsudi, serah terima dari pemerintah ke keluarga masing-masing baru bisa dilakukan setelah mereka menjalani rangkaian pemeriksaan kesehatan.

Sebelumnya, 10 ABK Brahma 12 itu disandera kelompok Abu Sayyaf, akhir Maret lalu, saat kapal yang mereka tumpangi, menarik kapal tongkang pengangkut 7.000 ton batu bara menuju Filipina.

Berbagai upaya pun dilakukan pemerintah Indonesia untuk membebaskan 10 sandera. Bahkan penyandera sempat minta tebusan senilai Rp 15 miliar.

Namun, belum ada penjelasan resmi, apakah ke-10 warga Indonesia itu dibebaskan setelah membayar uang tebusan sesuai dengan yang diminta.

Pemerintah saat ini masih berupaya membebaskan empat ABK Kapal TB Henry, yang juga disandera kelompok Abu Sayyaf, tak lama setelah penyanderaan ABK Brahma 12.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya