Bik Sum, Penjual Keliling yang Berjuang Kuliahkan 6 Anaknya

Pembawaannya sangat sederhana, ramah dan senyum yang terus menghiasi‎ wajahnya.

oleh Liputan6 diperbarui 26 Apr 2016, 17:33 WIB
Pembawaannya sangat sederhana, ramah dan senyum yang terus menghiasi‎ wajahnya.

Citizen6, Palembang- Bagi para Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan wartawan yang berdinas di lingkungan kantor Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel), pasti tidak asing dengan sosok Suminah (63) atau sering dipanggil Bik Sum.

Pembawaannya sangat sederhana, ramah dan senyum yang terus menghiasi‎ wajahnya. Kehadiran Bik Sum pun seringkali ditunggu-tunggu para pelanggannya yang selalu ketagihan dengan jajanan pempek dan kue yang selalu ia suguhkan. Padahal jarak dari rumah Bik Sum di Lorong Kelinci, Sekip ke kantor Pemprov Sumsel cukup jauh. Namun keinginan Bik Sum untuk berjualan masih kuat.

Jika dilihat sekilas, sosok Bik Sum yang sangat sederhana dengan busana biasa yang jauh dari kesan mewah. Tapi, banyak yang tidak tahu bahwa pekerjaan sederhana Bik Sum ini bisa membuat anak-anaknya sukses hingga jadi petinggi di instansi pemerintahan.

Hidup ditengah kesederhanaan tidak membuat wanita kelahiran Kutoarjo, Jawa Tengah (Jateng) ‎mempunyai mimpi yang sederhana juga. Meskipun ia hanya mengenyam bangku Sekolah Dasar (SD) saja, namun Bik Sum menginginkan anak-anaknya bisa meraih gelar sarjana dan menjadi orang sukses.

Pembawaannya sangat sederhana, ramah dan senyum yang terus menghiasi‎ wajahnya.

Rajutan mimpi Bik Sum bersama suaminya, Sadimin (70) untuk menyekolahkan sembilan anaknya sungguh patut diacungkan jempol. Bik Sum yang hanya penjual pempek dan Sadimin yang bekerja sebagai kuli bangunan mampu membiayai kuliah enam anak‎nya ke perguruan tinggi bergengsi di Palembang dan Jakarta.

Setiap hari, Bik Sum menjajakan 100 buah pempek dan 100 buah kue yang dipanggulnya sendiri menggunakan keranjang dan tampa seng. Bik Sum hanya mengantongi untung berjualan pempek sekitar Rp 100.000 setiap harinya. Tak jarang juga jualan Bik Sum banyak tidak laku dan ia harus pulang dengan untung yang sedikit.

"Hidup kami pas-pasan untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Makanya anak pertama hingga ketiga tidak bisa mengenyam pendidikan kuliah. Namun, saya bertekad kalau anak-anaknya harus bisa hidup lebih layak dari orang tuanya. Mereka harus kuliah sehingga bisa jadi orang sukses," ujar nenek sepuluh cucu ini‎, Selasa (26/4/2016).

Beruntunglah anak-anak Bik Sum mempunyai kemauan yang kuat untuk belajar, sehingga anak keempat dan keenamnya bisa mendapatkan beasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Akutansi (STAN) Jakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta sedangkan anak kelimanya bisa lulus di Universitas Sriwijaya, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) satu-satunya di Sumsel.

Meskipun mendapatkan beasiswa dan bebas dari biaya kuliah, namun Bik Sum harus rutin mengirimkan uang bulanan untuk anak-anaknya. Bik Sum juga harus membiayai kuliah ketiga anaknya yang lain di perguruan tinggi negeri dan swasta Palembang.

Dengan jerih payahnya mengumpulkan pundi-pundi uang, kini anak-anaknya sudah sukses menjadi orang besar. Anak keempatnya sudah bekerja di Kantor Pajak di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), anak kelimanya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel, dan anak keenamnya ‎bekerja sebagai PNS di Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel.

"Kalau anak kedelapan saya baru tamat kuliah dan kini sedang mencari kerja. Sedangkan anak bungsu saya masih kuliah semester lima di PTS Palembang," ungkapnya.

Sakit Kalau Tidak Jualan

Meskipun anak-anaknya sudah sukses berkarir dan mempunyai kehidupan yang layak, namun Bik Sum tidak ingin berpangku tangan ke anak-anaknya. Hingga saat ini, Bik Sum masih tetap berjualan walaupun hasil jualannya itu tidak seberapa dibandingkan uang bulanan yang diberikan anak-anaknya.

Pembawaannya sangat sederhana, ramah dan senyum yang terus menghiasi‎ wajahnya.

Anak-anaknya acapkali menyuruh Bik Sum untuk berhenti berjualan. Namun Bik Sum enggan meninggalkan profesinya ini dan masih ingin mencari nafkah untuk hidupnya.

"Kalau berhenti jualan, badan saya pegal-pegal semua. Sudah terbiasa berjualan seperti ini, jadi susah untuk meninggalkannya," ujar nenek 10 cucu ini.

Selain sakit-sakitan jika tidak berjualan, alasan Bik Sum tetap menjajakan pempek ke pelanggannya agar bis tetap menabung untuk membiayai hidupnya dan kuliah anaknya.

"Uang jualan ini untuk biaya hidup dan kuliah anak bungsu. Anak-anak saya yang lain juga rutin kirim uang dan bantu bayar kuliah adiknya, tapi saya tidak pernah meminta. Kalau dikasih, saya terima. Kalau tidak dikasih, ya saya bayar sendiri kuliahnya," ungkapnya.

Saat ditanyakan tentang cita-cita Bik Sum, wanita paruh baya ini hanya menginginkan anak-anaknya bahagia dan‎ tidak hidup susah seperti orang tuanya.

Penulis :
Nefri Ryu
Penulis dan Tukang Plesiran
Instagram : @nefri_ryu
Facebook : Nefri Ryu

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya