Cerpen: Kalibut Erlangga

Berikut cerpen pilihan Liputan6.com, Sabtu (26/3/2016), "Kalibut Erlangga" karya Ahmad Ibo.

oleh Ahmad ApriyonoDiperbarui 09 Juni 2025, 06:58 WIB
Berikut cerpen pilihan Liputan6.com, Sabtu (26/3/2016), "Kalibut Erlangga" karya Ahmad Ibo.

Liputan6.com, Syahdan. Muka-muka memucat. Entah kemana akan pergi. Di atas sana, asap mengepul menyelimutinya. Hawa panas seakan memberi peringatan agar semua menghindar. Kerna apa gerangan alam menjadi murka? Lahar panas siap tumpah menyapu manusia, menyapu segala yang kotor, yang jahat, segala yang buruk. Setiap ibu merangkuli anaknya, setiap ayah membawa serta harta bendanya, menjauh dari amuk murka Merapi. Dalam sekejap dia menyemburkan murkanya, mengeluarkan kilatan-kilatan merah, tumpah, menjalar menyapu perkampungan. Sapulah, sapulah apa yang ada, sapulah dan jadikanlah baru. Pralaya sudah Mataram. Hancur berantakan tak tersisa.

Kini malam menjadi teduh dan gemintang. Melangkah tenang Erlangga ke dipan, membaringkan badannya yang tegap, mengingat kembali kisah-kisah bisikan ibunda Mahendradatta sampai ia terlelap. Entah apa yang menjadikannya tetap berada di sini. Umur 16 tahun melewati Segara Rumpek, bertekad membangun kembali kerajaan di Kadiri bersama sahabat setia Narrotama. Cintanya kepada Kadiri melebihi cintanya terhadap apapun.

Sebagai pewaris Wangsa Isana, Daha di bawah perintah Erlangga menjadi kerajaan yang kuat, rakyatnya sejahtera aman sentausa. Tak kurang suatu apapun. Panen selalu melimpah. Kerajaan tidak pernah menagih sepeser pun upeti dari rakyat. Bahkan tiap sore, Erlangga menyempatkan dirinya berkeliling turun menyambangi perkampungan-perkampungan yang manjadi daerah kekuasaannya.

Baca Juga

  • Cerpen: Miom Telah Merenggut Rahim Sahabatku
  • Cerpen: Matinya Kucing Belang Tiga
  • Cerpen: Ada Sisa Sabun di Closetmu

Hingga waktu menceritakan takdirnya...

”Ayahanda, kerna apa gerangan suasana kemelut ini tercipta?” Panji Garasakan tak mampu membendung rasa ingin tahunya. Dingin malam tak mampu dihindari, terik matari tak mampu dihalangi.

Dalam ketenangan Erlangga menjawab, ”Anakku, engkau mempunyai saudara sedarah keturunan Wangsa Isana yang sebenarnya lebih berhak atas tahta kerajaan Daha.”

Mendengar demikian, haruskah terpikir kerisauan atau terbesit rasa kekecewaan. Mengingat sudah bertahun-tahun ayahanda membangun kerajaan dan hendak mewariskannya kepada salah seorang dari dua anaknya: Kilisuci dan Panji Garasakan. Kini datang Samarawijaya menuntut meminta bagian tahta. Memang, Poruhita kerajaan sudah mencatat apa-apa kisah yang diutarakan Mahendradata perihal keturunan Wangsa Isana. Tertulis, Samarawijaya adalah anak kandung dari Sri Isana Dharmawangsa Tguh yang juga saudara laki-laki dari ibunda Erlangga, Mahendradatta.

”Lantas mengapa Ayah mengatakan Samarawijaya lebih berhak atas tahta kerajaan Daha daripada kami? Bukankah ayahanda sendiri yang telah membangun dan membesarkan kerajaan ini?” Kilisuci tak mampu menahan sedikit amarahnya. Tak bisa dibohongi, mata menangkap apa adanya, kerisauan melekat pada wajahnya yang berparas ayu.

”Seorang perempuan tidak pantas membawa Garudamukha tanda kebesaran tahta kerajaan Daha!” salah seorang menteri berkata-kata tak mampu dikendalikan.

”Diam kau! Aku tidak bertanya kepada engkau!” amarah makin menghinggapi Kilisuci. Hati telah kotor. Sementara burung gagak menyalak-nyalak, desir angin menggoyangkan dahan-dahan, menciptakan irama tragis kisah hidup manusia. Haruskah tercipta kerisauan, atau hati ternoda oleh kekecewaan.

”Sanggramawijaya, tak elok rupamu berbicara keras seperti itu! Memang benar adanya apa yang telah diucapkan menteri, Garudamukha tidak diperuntukkan bagi anak perempuan. Tahta diwariskan kepada garis keturunan laki-laki. Karena laki-laki dianggap lebih tangguh dan perkasa untuk memimpin sebuah kerajaan. Meskipun demikian, setidaknya ibundaku Mahendradatta telah menunjukkan keberhasilannya mempertahankan Wangsa Isana dan membangun kerajaan Daha hingga akhirnya diwariskan kepadaku. Sampai terpatri dalam pikiranku kini, tak ada beda perempuan dan laki-laki. Siapapun manusia, dimanapun mereka berada, mereka akan bisa jika mereka berusaha.” hati kembali teduh, perkataan Erlangga bak kata-kata Dewa yang datang dari asap pedupaan.

Malam makin larut. Rintik hujan membasahi, menyeruakkan aroma tanah. Kunang-kunang enggan menampakkan sinarnya, lebih memilih bersembunyi di balik dedaunan. Haruskah tercipta kerisauan?

***

Pagi menjelang, seperti biasa, semua berjalan dengan apa adanya. Ujung daun meneteskan embun, matari tetap bersinar walau sedikit gundah. Air sungai jernih tetap mengalir, di kanan kirinya bunga-bunga mencipta harmoni sibuk bercengkerama dengan genitnya kumbang. Tibalah saatnya bagi burung untuk bersahut-sahutan menyambut pagi. Aktivitas kembali berjalan setelah pagi menggantikan malam. Para bapak mendorong gerobak-gerobak berisi hasil perkebunan untuk dijual ke pasar. Sebagian lagi sibuk di ladang. Sementara para ibu mengajarkan anak-anak mereka ilmu budi pekerti, mengajarkan mantra-mantra pujian bagi Hyang Budha. Sedang pemuda-pemuda bersiap untuk berkumpul di tanah lapang berlatih keprajuritan. Menjelang sore, selalu ada pertandingan salah seorang dari mereka dengan banteng yang digalakkan. Tak tampak kerisauan hati mereka walau ancaman perang saudara sewaktu-waktu bisa pecah.

“Mohon diri ayah, aku hendak pergi ke tanah lapang berlatih keprajuritan.” Panji Garasakan mohon pamit kepada ayahanda Erlangga Dewa. Topi tekes menutupi kepalanya, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai di antara tekes. Badannya tegap, menonjolkan otot-otot yang biasa terlatih. Kain batik bermotif cendrawasih menghiasi bagian bawah tubuh pemuda gagah itu. Terselip tanduk banteng di bagian belakang pinggang, senjata yang digunakan bila dalam keadaan terdesak. Lalu dengan berkuda Panji Garasakan meracau menuju tanah lapang.

Tak merasa istimewa karena dinobatkan sebagai calon pewaris tahta kerajaan, Panji Garasakan tetap menjadi pemuda yang rendah hati. Persis seperi Erlangga di waktu muda. Bergaul dengan siapa saja, tidak mengenal kelas dan golongan. Baginya setiap manusia adalah sama. Tak tampak kesombongan menggelayuti dirinya. Karena setiap pagi ia mencium tanah, mengucap syukur atas berkah Hyang Budha.

Hari itu ia menunjuk diri untuk diadu dengan banteng yang digalakkan. Bukan serta merta untuk sombong, menunjukkan kekuatan diri. Melainkan untuk menguji ilmu yang sudah ia dapatkan dari berlatih keprajuritan. Selain sebagai contoh bagi perwira lain agar tetap berani melawan segala rintangan apapun.

Banteng galak dilepas, hanya ada Panji Garasakan di situ. Lainnya berada di lingkar luar arena. Menyaksikan penuh ketegangan. Otot-otot Panji Garasakan deras mengeluarkan keringat, berkilau tertimpa sinar matari. Badan tegapnya mengeluarkan sinyal kalau ia telah siap dan hendak melawan jika banteng galak itu lebih dulu menyerang. Dan dengan segala kebuasannya, banteng pun menyerang. Menyeruduk dengan tanduk tajamnya, menggila seperti kesetanan. Dengan satu gerakan Panji Garasakan menghindar, lalu menyerang balik dengan sekali tendangan. Brakk! Banteng galak itu langsung tersungkur dibuatnya.

Sementara itu...

”Yang mulia, sahabatku Erlangga Dewa, kiranya berbesar hati mendengar kabar ini.” Narrotama menarik napas panjang, seakan tidak kuasa menahan segala apa yang tampak padanya. Airmata menetes, kerisauan mulai melanda, mimpi buruk itu seperti akan menjadi kenyataan. ”Sebagian menteri membelot dan kini mereka membentuk kerajaan sendiri, menjadikan Samarawijaya sebagai pemegang tahta Garudamukha. Para menteri yang memimpin enam dusun merelakan daerah kekuasaannya untuk dijadikan daerah kerajaan Samarawijaya. Kini Daha mempunyai dua orang raja.” gundah nian hati Narrotama.

”Tenanglah Narrotama, bangunlah, hapuslah airmatamu. Manusia tidak luput dari dosa. Ketika kuasa dianggap jalan mulia untuk mencapai nirwana, saat itu manusia adalah kotor. Tapi aku mengenal siapa sepupu sedarahku Samarawijaya dari mulut Mahendradatta. Dia pemuda yang welas asih, kerendahan hatinya mampu meruntuhkan langit. Dia keturunan Wangsa Isana. Pemuda yang jelas dan tegas menentang kemenangan lewat kilauan pedang.” ketenangan Erlangga bak air Segara Rumpek di malam hari.

”Tapi sahabatku, aku menyaksikan dengan kepalaku sendiri, para pembelot telah memberitakan yang macam-macam perihal engkau dan Daha kini. Engkau dikata tidak mau mengakui Samarawijaya sebagai seorang yang juga berhak atas takhta kerajaan Daha. Berita yang bukan-bukan sengaja mereka buat untuk mengundang murka Samarawijaya kepadamu, sahabatku Erlangga Dewa.”

Perih nian hati Erlangga mendengar ucapan Narrotama, sahabat yang paling ia percaya. Akan dibawa kemana segala kerisauan, ketika hati manusia tertutupi nafsu kekuasaan.

”Hendak apa para pembelot menceritakan yang bukan-bukan perihal aku dan Daha kepada saudara sepupu sedarahku?” Erlangga melangkah, berucap tanya sambil memandang langit. Tiupan angin menggoyangkan dahan-dahan, menggugurkan dedaunan yang sudah tua. Berterbangan dan akhirnya jatuh di rerumputan. Hati siapa yang tak risau.

”Maaf sahabatku Erlangga Dewa, atas segala kelancanganku berkata demikian, mungkin para pembelot memang menghendaki darah yang tertumpah dari perang saudara ini. Dengan demikian, mereka bisa memanfaatkan kerajaan Daha yang pralaya. Lalu mereka dengan mudah meruntuhkan Wangsa Isana dan menggantikannya dengan yang baru.” Narrotama menjawab gundah tanya Erlangga sambil menundukkan kepalanya, tak tahan melihat wajah Erlangga yang dipenuhi kerisauan.

”Narrotama, tidak mudah meruntuhkan Wangsa Isana! Hyang Budha telah lama memberkati tanah ini. Nafsu kuasa hanya akan jadi buih, hilang tak berjejak.” Erlangga meyakinkan Narrotama, disaksikan beberapa menteri dan perwira yang masih setia kepadanya. Poruhita kerajaan kembali memainkan alat tulisnya, menuliskan apa yang terjadi adanya.

Pada saat itu datanglah Panji Garasakan, kudanya berteriak, memalingkan pandangan semua orang. Tubuhnya yang gagah menuruni kudaputih lalu mengikatnya pada sebuah pohon besar. Membawa secarik surat. Seseorang telah memberikan surat itu, katanya diperuntukkan bagi Erlangga Dewa, ayahandanya sendiri. Meski demikian, ia sama sekali tidak berani membuka dan membaca surat itu. Namun tak bisa dipungkiri, Panji Garasakan merasakan tanda tanya besar dalam jiwanya, pula merasakan kerisauan yang tiada henti.

Diberikannya surat itu kepada Erlangga. Kini perhatian semua orang tertuju kepadanya. Poruhita bersiap menuliskan apa yang terjadi.

Lantas setelah Erlangga membaca...

”Narrotama, siapkan perwira dan prajurit-prajurit kita! Panji Garasakan, kau yang memimpin perwira dan prajurit! Sebagian berjaga di perbatasan! Malam ini ungsikan orang-orang tua, perempuan dan anak-anak. Besok adalah hari di mana kita akan memberi jawaban atas segala kerisauan! Hari di mana nafsu angkara murka dikalahkan oleh sinar terang Hyang Budha!” pekik semangat Erlangga membuat merinding siapapun yang mendengarnya. Disambut angkat senjata dan sorak-sorai para perwira dan prajurit.

Malam menjadi amat kelam. Hawa panas menyelimuti Daha, kunang-kunang enggan menampakkan sinarnya. Burung gagak pun takut bersuara. Hembusan angin tak mampu membawa serta kerisauan hati Panji Garasakan. Sinar rembulan tertutupi awan. Akan dibawa kemana segala kerisauan, ketika hati manusia tertutupi nafsu kekuasaan.

Kini tinggal Panji Garasakan, Erlangga, dan sahabat setia Narrotama.

”Ayah, tak adakah jalan lain selain berperang?” risau hati Panji Garasakan bertanya kepada ayahandanya.

”Aku pun hendak menghindari adanya perang saudara ini. Namun, keadaan yang menuntutku untuk tetap memegang Garudamukha takhta kerajaan Daha. Sebagian menteri telah membelot, dan memanfaatkan keadaan Samarawijaya kini. Takkan aku relakan Wangsa Isana pralaya, takkan aku biarkan setiap gerak yang hendak menghancurkan Wangsa Isana! Kau sebagai pemimpin perang, kiranya menjadikan pembelot sebagai target utama, bukan Samarawijaya. Ia hanya korban dari bisa beracun mulut manusia.”

Sementara Narrotama hening, terus komat-kamit mengucapkan mantra pujian kepada Hyang Budha.

***

Perang saudara pun tak dapat dihindari. Korban berjatuhan. Darah menganak sungai. Telah lama tanah ini diberkahi Hyang Budha, namun nafsu belaka membuat noda. Panji Garasakan dengan kuda putihnya berada di paling depan. Lincah memainkan busur panah dan sesekali mengayuhkan tanduk banteng miliknya. Ingat akan perkataan ayahanda tadi malam, hanya manusia berbisalah yang menjadi target utama prajurit Daha di bawah kuasa Erlangga.

Sementara Erlangga menenangkan pikiran, mengucap mantra-mantra pujian bagi Hyang Budha. Ditemani Kilisuci dan beberapa orang yang berlindung di istana kerajaan. Semua mengucap doa, mengharap yang terbaik dari semua yang telah terjadi. Dingin malam tak mampu dihindari, terik matari tak mampu dihalangi, hanya doa menjadi tujuan pasti.

Panji Garasakan berhasil memasuki daerah kekuasaan Samarawijaya. Kini ia telah berhadapan langsung dengan Samarawijaya, saudara sedarahnya. Tahu akan kelembutan hatinya, Panji Garasakan tidak menyambut kilauan pedang yang keluar dari balik badan Samarawijaya. Ia turun dari kudanya.

”Kau Panji Garasakan anak laki-laki Erlangga Dewa? keluarkan senjatamu, bertarunglah secara jantan, hancurlah segala kesombongan kalian!.”

”Tidak, aku tidak membunuh seudara sedarah sesama keturunan Wangsa Isana.” kata Panji Garasakan tak gentar melihat kilauan pedang Samarawijaya.

”Hahaha...orang sombong, kalian tidak perlu main tipu muslihat. Jika aku lengah mungkin kau sudah melempari tanduk bantengmu itu ke arahku.”

”Tak ada yang menipu, jua tak ada yang tertipu. Tak ada yang menyakiti, dan tak ada yang tersakiti. Manusia hanya dibutakan oleh hati sempit nafsu kekuasaan. Saudaraku Samarawijaya, sesama keturunan Wangsa Isana, jiwamu telah termakan bisa beracun para pembelot yang menginginkan Wangsa Isana pralaya, dan hendak menggantikannya dengan yang baru. Kiranya kau mengetahui, ada pihak ketiga yang berusaha memanfaatkan perang saudara ini. Kiranya engkau juga mengetahui, bahwa ayahanda Erlangga mengakuimu sebagai keturunan sah pemegang Garudamukha lambang tahta kerajaan Daha”

”Apa?”

Remuk sudah hati Samarawijaya mendengar itu. Hancur berantakan jiwa. Apa yang hendak dikata menjadi perih terasa. Korban sudah terlanjur berjatuhan. Darah sudah terlanjur menganak sungai. Hyang Budha tampak memberikan murkanya. Memang, mulut manusia lebih tajam dari sebilah pedang.

”Hyang Budha, aku telah berdosa, akulah penyebab semua ini, hapuslah aku!” Samarawijaya mencium tanah, memohon maaf atas segala khilaf. Airmata jatuh namun tak mampu mengobati rasa sesalnya. Panji Garasakan menghampiri, membuatnya berdiri kembali. Dan mereka saling berpelukan. 

***

Angin datang dari segala penjuru, membawa pergi kerisauan dan kekecewaan. Pergi entah kemana, pergilah, pergilah entah kemana. Tutup semua kenangan pahit, namun Poruhita tetap menuliskan apa adanya, walaupun itu pahit dirasa. Kini kerajaan Daha melanjutkan nafasnya.

Masyarakat berkumpul di tanah lapang. Mereka akan menyaksikan peristiwa yang paling bersejarah dalam sejarah kerajaan Daha. Poruhita akan menuliskannya. Prasasti akan berdiri menceritakannya. Tak ada yang ditutup-tutupi, semua diceritakan apa adanya. Erlangga akan membagi dua kerajaan Daha. Sebelah dinamai Pangjalu diperintah oleh Panji Garasakan, sedang sebelah lagi dinamai Jenggala diperintah oleh Samarawijaya. Kedua kerajaan dipisahkan oleh sungai. Bersahabatlah. Bersatulah. Teruskanlah berbakti kepada Hyang Budha. Sejahterakanlah rakyat.

Selesai membagi dua kerajaan Daha, Erlangga Dewa memutuskan untuk pergi bertapa menjadi penganut Budha yang setia. Diikuti oleh Kilisuci Sanggramawijaya anak perempuannya, dan Narrotama sahabat sejatinya. Mereka berpencar mengikuti tiga arah angin. Hilang sudah kerisauan, hilang sudah kekecewaan. 

 

Ahmad Ibo, pernah menulis Bang Jayus (Kumpulan Cerita Lucu), Kuburan Tanpa Nisan (Antologi Cerpen), dan Kitab Sastra Mataharu (Antologi Tulisan Sastra).

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya