5 Faktor Kunci Leicester Vs Spurs, Siapa Juara Liga Inggris?

Leicester City dan Tottenham Hotspur bersaing ketat menjadi juara Liga Inggris musim ini.

oleh Adyaksa VidiDiterbitkan 16 Maret 2016, 14:30 WIB
Tottenham Hotspur berjuang sekuat tenaga untuk mengejar Leicester City di puncak klasemen Liga Inggris.

Liputan6.com, Leicester - Leicester City dan Tottenham Hotspur bersaing ketat untuk menjadi juara Liga Inggris musim ini. Keduanya hanya terpaut lima poin di klasemen.

Saat ini The Foxes masih menjadi pemuncak Liga Inggris dengan koleksi 63 poin, sedangkan Spurs mengoleksi 58 poin.

Baca Juga

  • Jadwal Siaran Langsung Liga Champions Malam Ini
  • Hasil Lengkap Liga Champions Dinihari Tadi
  • Mourinho Pastikan Kembali Melatih Juli Mendatang



Dengan menyisakan delapan laga, maka peluang Spurs untuk menyalip Leicester belum tertutup. Terlebih jadwal keduanya juga sama-sama berat.

Leicester masih harus menghadapi Manchester United (1/5/2016), Everton (7/5/2016), dan Chelsea (15/5/2016). Sedangkan Spurs akan menantang Liverpool (2/4/2016), MU (10/4/2016), dan Chelsea (3/5/2016).

Lalu faktor apalagi selain jadwal yang bakal menjadi penentu juara musim ini. Berikut ulasannya seperti dilansir Telegraph:


1. Pengalaman Manajer

Ranieri punya pengalaman lebih bagus ketimbang manajer Spurs, Mauricio Pochettino.

Untuk kategori ini tentu Leicester lebih unggul. Claudio Ranieri sudah berkarier sebagai manajer sejak tahun 1988, atau saat Mauricio Pochettino baru berusia 16 tahun. Sementara Pochettino menjalani debutnya sebagai manajer baru pada tahun 2009 lalu.

Ranieri merupakan salah satu manajer berpengalaman di dunia. Ia pernah menangani sejumlah klub besar seperti Juventus, Roma, Inter Milan, AS Monaco, hingga Chelsea.

Berbeda dengan Pochettino yang baru menjelajahi dua negara. Bahkan manajer asal Argentina itu cuma melatih dua klub papan tengah sebelum Spurs, yakni Espanyol dan Southampton.

Jadi Ranieri kemungkinan besar bisa menangani tekanan yang dialami anak asuhnya. Ia juga tidak punya beban seandainya gagal karena target Leicester hanya lolos degradasi musim ini.


2. Kekuatan Pemain

Taktik Tottenham monoton karena tidak punya alternatif jika mengalami kebuntuan.

Meski materi pemain Spurs di atas kertas lebih baik ketimbang Leicester, namun kenyataannya tidak demikian. Leicester justru punya pemain pelapis yang juga bisa diandalkan.

Leonardo Ulloa menjadi alternatif jika Jamie Vardy dan Riyad Mahrez mengalami kebuntuan. Demikian juga Demarai Garay dan Jeff Schlupp yang mampu memecah kebuntuan saat laga berjalan ketat.

Sebaliknya kedalaman skuat Spurs justru dipertanyakan jelang berakhirnya musim ini. Terbukti saat pemain pelapis dipasang di Liga Europa maka hasilnya jeblok.

Jika salah satu pemain inti seperti Harry Kane, Christian Eriksen, atau Delle Alli cedera maka Spurs diprediksi bakal mengalami kesulitan. Namun jika mereka akhirnya gagal di Liga Europa, maka Spurs bisa menjaga kondisi skuatnya.

Lanjut Baca:

Claudio Ranieri punya strategi yang mumpuni musim ini. Siapa pun lawannya, Leicester selalu mengandalkan serangan balik.Gelandang dinamis seperti N'Golo Kante dan Danny Drinkwater mampu memberikan suplai bola pada barisan striker cepat seperti Jamie Vardy dan Shinji Okazaki. Saat Vardy dan Okazaki mengalami kebuntuan, maka Ranieri membebaskan Riyad Mahrez di sektor serangan.Sedangkan Tottenham justru lemah di sektor taktik. Mauricio Pochettino tidak punya rencana cadangan jika strateginya buntu di lapangan.Laga lawan West Ham menjadi buktinya. Permainan menekan tidak mampu menembus pertahanan The Hammers. Spurs mengubahnya dengan strategi bola langsung ke Harry Kane, tetapi juga tidak menyelesaikan masalah karena ia sudah diisolasi lawan. Satu-satunya keunggulan Spurs adalah efektifnya mereka memanfaatkan bola mati.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya