Liputan6.com, Jakarta - Cukuplah sebuah bola. Ya, cukup sebuah bola dan siapa pun bisa bermain sepak bola di mana saja. Bila tak ada bola sungguhan, cukuplah bola yang dibuat dari apa saja.
Baca Juga
- Lorenzo Prediksi Banyak Kejutan di MotoGP Qatar
- Klasemen Liga Inggris: MU Tempel ManCity
- Klub Jerman Ini Disponsori Rumah Bordil
Advertisement
Saat kanak-kanak, para bintang Brasil zaman dahulu macam Pele dan Toninho Cerezo terbiasa menendang bola yang dibuat dari gulungan beberapa kaus kaki.
“Saya pejamkan mata dan masih bisa melihat bola sepak pertama saya. Itu hanyalah kumpulan kaus kaki yang disatukan dengan diikat. Saya dan teman-teman 'meminjam' semua kaus kaki itu dari jemuran tetangga. Kami menghabiskan waktu berjam-jam menendang 'bola' itu,” kisah Pele dalam Why Soccer Matters, biografinya yang ditulis bersama Brian Winter.
Selain kaus kaki, barang-barang lain yang pernah dipakai Pele untuk bermain sepak bola adalah jeruk besar, beberapa kain pencuci piring yang disatukan, bahkan terkadang sampah-sampah yang dibulatkan. Terpenting baginya, itu menyerupai bola dan bisa ditendang ke sana ke mari.
Begitulah ketika sepak bola masih sebuah permainan belaka. Sepak bola sangat sederhana. Namun, di situlah letak keindahannya. Kesederhanaan itu membuat sepak bola bisa dimainkan siapa saja dan di mana saja.
Kini, hal itu tak berlaku lagi. Terutama di pentas sepak bola profesional. Di sana, sepak bola adalah pertunjukan istimewa dan bisnis yang luar biasa. Dalam bingkai itu, uang adalah pusat permainan dan kemenangan jadi hal yang sangat krusial.
Nick Davidson dan Shaun Hunt dalam buku Modern Football is Rubbish, mengecam hal tersebut. Menurut keduanya, peredaran uang yang terlalu banyak di sepak bola justru menjadikannya terlalu mahal untuk para fans.
“Televisi membayar terlalu besar untuk mendapatkan hak siar. Klub-klub membayar terlalu mahal para pemain. Dan hasil dari semua omong kosong itu, fans diminta membayar lebih mahal untuk menonton pertandingan,” urai Davidson dan Hunt.
Sesuai tuntutan bisnis, kesempurnaan lantas jadi tuntutan utama. Mungkin hanya di sepak bola, para produsen bola, sepatu, dan kostum berlomba-lomba menelurkan teknologi terbaru setiap tahunnya. Bola harus bulat sempurna, kostum dan sepatu harus ringan namun kuat.