Liputan6.com, Purworejo: Beduk Kyai Bagelen yang tergantung megah di serambi agung Masjid Darul Mutaqin Purworejo, Jawa Tengah, konon adalah beduk terbesar di dunia. Beduk itu merupakan karya besar umat Islam Purworejo saat dipimpin oleh Adipati Cokronagoro I atau bupati pertama Purworejo.
Ketua Takmir Masjid Agung Darul Mutaqin Purworejo Najib Safrudin menjelaskan, beduk raksasa memiliki garis tengah depan mencapai 194 sentimeter dan garis tengah belakang 180 cm. Sementara keliling bagian depan 601 cm dan keliling bagian belakang 564 cm.
Sedangkan untuk jumlah paku payung di bagian depan mencapai 120 buah, bagian belakang 98 buah. Hingga kini, warisan karya sejarah Islam di Purworejo ini terpelihara dengan baik. Sebab, beduk tersebut hanya ditabuh pada hari-hari besar Islam, seperti Hari Raya Idulfitri, Iduladha, dan setiap salat Jumat.
Lebih lanjut, Najib menjelaskan, beduk itu dibuat dari dari kayu jati bercabang lima yang usianya sudah ratusan tahun. Konon pohon jati yang dibuat untuk bahan beduk tersebut dianggap sebagai pohon jati keramat dan tidak boleh ditebang. Namun karena Islam tak mengenal takhayul, pohon jati tersebut tetap ditebang oleh Kyai Haji Mokhamad Irsad pada 1837.
Semula, usai dibuat dari bahan kayu jati utuh tanpa sambungan, beduk Kyai Bagelen langsung diletakkan di dalam masjid agung. Tapi karena jumlah jamaah terus meningkat, beduk itu kemudian dipindahkan ke serambi masjid hingga saat ini.(UPI/YUS)
Ketua Takmir Masjid Agung Darul Mutaqin Purworejo Najib Safrudin menjelaskan, beduk raksasa memiliki garis tengah depan mencapai 194 sentimeter dan garis tengah belakang 180 cm. Sementara keliling bagian depan 601 cm dan keliling bagian belakang 564 cm.
Sedangkan untuk jumlah paku payung di bagian depan mencapai 120 buah, bagian belakang 98 buah. Hingga kini, warisan karya sejarah Islam di Purworejo ini terpelihara dengan baik. Sebab, beduk tersebut hanya ditabuh pada hari-hari besar Islam, seperti Hari Raya Idulfitri, Iduladha, dan setiap salat Jumat.
Lebih lanjut, Najib menjelaskan, beduk itu dibuat dari dari kayu jati bercabang lima yang usianya sudah ratusan tahun. Konon pohon jati yang dibuat untuk bahan beduk tersebut dianggap sebagai pohon jati keramat dan tidak boleh ditebang. Namun karena Islam tak mengenal takhayul, pohon jati tersebut tetap ditebang oleh Kyai Haji Mokhamad Irsad pada 1837.
Semula, usai dibuat dari bahan kayu jati utuh tanpa sambungan, beduk Kyai Bagelen langsung diletakkan di dalam masjid agung. Tapi karena jumlah jamaah terus meningkat, beduk itu kemudian dipindahkan ke serambi masjid hingga saat ini.(UPI/YUS)