[KOLOM] Berapa Lama Madrid dan Zidane Bulan Madu?

Posisi Zidane di Real Madrid belum aman. Simak ulasannya di kolom bola Asep Ginanjar.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 Januari 2016, 07:50 WIB
Kolom Bola Asep Ginanjar (grafis: Abdillah/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Tampillah dengan segenap kemampuan dan kekuatan, namun tanpa beban. Lalu, jangan lupa berharaplah lawan mengalami hari buruk. Hanya dua resep itu yang bisa dibawa tim-tim semenjana saat menghadapi tim-tim raksasa.

Baca Juga

  • Saat Balon Dijadikan Penonton Sepak Bola di Negeri Para Dewa
  • Bikin Sirkuit Baru Pengganti Sentul, Misi Mustahil?
  • MU Membosankan, Ferguson Pilih Nonton City

Ada pula semangat kebencian yang menjadi dasar tim semenjana bertekad kalahkan tim besar. Di Jerman, ada semangat alle gegen Bayern, sedangkan di Inggris ada anything but United.

Tanpa penampilan sepenuh hati, mendulang poin hanyalah harapan hampa.Tekad itu pula yang diusung para penggawa Real Betis saat hendak menjamu Real Madrid, akhir pekan lalu. "Melawan Madrid sangatlah sulit. Kami sepakat, pekan ini akan berjuang sangat keras selama 90 menit," ucap Antonio Adan, kiper Betis.

Adan cs. menunjukkan tekad tersebut di lapangan. Mereka tampil agresif, tak kenal lelah, dan tak kenal takut. "Hari ini, Anda tak akan bisa menunjuk seorang dari kami sebagai pemain terbaik. Semua pemain mengeluarkan seratus persen kemampuan. Itu pula yang membuat kami mampu mendulang satu poin yang sangat berharga," kata eks kiper Madrid ini.

Cristiano Ronaldo (kanan) berebut bola dengan pemain Real Betis, Benito Villamarin, saat Real Madrid berhadapan melawan Betis, Senin (25/1/2016) dini hari WIB. (Reuters/Juan Medina)

Betis pantas berbangga hati. Pasalnya, merekalah yang pertama kali membuat Madrid di bawah asuhan Zinedine Zidane gagal menangguk kemenangan. Sebelumnya, Cristiano Ronaldo dkk. tampil garang. Deportivo La Coruna dibantai 5-0, sedangkan Sporting Gijon dihajar 5-1.

Hasil imbang itu memang belum bisa dikatakan setback atau kemunduran bagi Madrid. Namun, Los Blancos dan Zidane perlu waspada. Ini kali ketiga secara beruntun mereka gagal menuai kemenangan tandang. Sebelumnya, Cristiano Ronaldo cs. kalah 0-1 dari Villarreal dan imbang 2-2 dengan Valencia. Hingga jornada ke-21, dari sepuluh lawatan, Madrid hanya meraih empat kemenangan.

Khusus bagi Zidane, ini juga alarm dini. Optimisme memang harus terus dinyalakan, namun kewaspadaan juga wajib ditingkatkan. Bila jornada-jornada berikut tak dilalui dengan rentetan kemenangan, masa bulan madunya dengan Los Blancos terancam usai lebih cepat. Apalagi sejak awal tak sedikit yang meragukan kemampuannya sebagai pelatih.

Lanjut Baca:

Mempertahankan masa bulan madu selama mungkin adalah tantangan tersendiri bagi para pelatih, terutama mereka yang berada di klub-klub besar. Sejak milenium baru, para pelatih di liga-liga teras Eropa macam Premier League, La Liga, dan Serie-A bak berjalan di atas mata pedang. Terpeleset sedikit saja, luka yang didapatkan.Sepanjang paruh pertama musim 2015-16, laporan League Managers’ Association (LMA) menyebutkan, sebanyak 29 manajer mengalami pemecatan di empat kasta teratas kompetisi sepak bola Inggris. Lima di antaranya di Premier League dan sepuluh di Divisi Championship. Bila dirata-rata, para manajer yang dipecat itu hanya bertugas selama 1,58 tahun.Sementara itu, andai ditarik lebih jauh, dari Januari 2015, di Premier League saja ada 12 manajer yang tercelat.Fenomena serupa juga terjadi di Spanyol. Sepanjang 2015, tingkat pergantian pelatih di Divisi Primera malah lebih tinggi dibanding Premier League. Dari Cosmin Contra pada 5 Januari 2015 hingga Sergio Gonzalez pada 14 Desember 2015, ada 16 entrenador yang harus terdepak dari kursinya. Rata-rata masa tugas mereka hanyalah 1,1 tahun. Sekarang ini, masa bulan madu pelatih rata-rata hanya berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan. Contohnya, tengok saja Jurgen Klopp. Saat direkrut Liverpool pada 8 Oktober 2015, manajer asal Jerman itu disambut bak Tuhan yang pasti membuat The Reds tampil rancak dan berjaya. Namun, tiga bulan kemudian, Klopp mulai dihantam kritik. Gara-gara badai cedera pemain yang membuat The Reds sempat kehabisan stok bek tengah, Klopp dituding sebagai biang masalah. Oleh Sam Allardyce, manajer Sunderland, dan Raymond Verheijen, pelatih asal Belanda yang menulis buku Complete Handbook of Conditioning for Soccer, Klopp dituduh terlalu kaku dalam menerapkan falsafah sepak bolanya sehingga membuat para pemain bertumbangan dihantam cedera otot. Kisah serupa dialami Louis van Gaal yang kini terus tersudut dan dikabarkan sempat mengajukan pengunduran diri dari kursi manajer Manchester United pada akhir pekan lalu. Saat datang pada awal musim 2014-15, Van Gaal disanjung sebagai sosok yang akan mengembalikan kejayaan Setan Merah. Paul Scholes menyebut eks pelatih Ajax Amsterdam itu sebagai orang yang sangat genius dan Man. United akan menjalani musim yang jauh lebih baik dibanding saat ditangani David Moyes. “Saya rasa, dia akan meningkatkan performa tim sebanyak 20 hingga 25 persen dari musim lalu,” kata dia seperti dikutip The Guardian, 8 Juli 2014.Empat bulan kemudian, pandangan Scholes berubah. Dia menilai Red Devils stagnan di tangan Van Gaal. Secara khusus, dalam kolomnya di London Evening Standard, dia mempertanyakan putusan tak membeli defender baru pada bursa transfer. Sejak itu, Scholes menjadi kritikus nomor wahid bagi Van Gaal dan Man. United.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya