Jelang Akhir Pekan, Rupiah Menguat ke 13.878 per Dolar AS

Sejak awal pekan, rupiah memang terlihat mengalami penguatan karena ada optimisme dari pelaku pasar terhadap belanja negara.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 Januari 2016, 12:31 WIB
Petugas merapikan uang di Kantor Kas Bank Mandiri, Jakarta, Senin (4/1/2016). Nasib rupiah di tahun 2016 sulit menguat di tengah tingginya permintaan dollar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan menjelang akhir pekan ini. Penguatan rupiah karena optimisme angka belanja modal yang membaik.

Mengutip Bloomberg, Jumat (22/1/2016), rupiah dibuka di level 13.878 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang ada di level 13.906 per dolar AS.

Dari pagi hingga siang hari ini, rupiah berada di kisaran 13.838 per dolar AS hingga 13.887 per dolar AS. Jika dihitung sejak awal tahun, rupiah telah melemah 0,53 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs ReferensiJakarta InterbankSpot DollarRate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah ada dilevel 13.874 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan kemarin yang ada dilevel 13.899 per dolar AS.

Baca Juga

  • Pelemahan Ekonomi China Tak Bakal Pengaruhi Rupiah
  • Ekonomi China Melambat, Rupiah Diperkirakan Bakal Tertekan
  • Harga Minyak Turun, Rupiah Tertekan ke 13.974 per Dolar AS

Sejak awal pekan, rupiah memang terlihat mengalami penguatan karena ada optimisme dari pelaku pasar terhadap belanja negara yang bisa berjalan lebih cepat.

Dengan percepatan belanja negara tersebut akan memacu pertumbuhan ekonomi dan mendorong masuknya investor asing sehingga bisa mendongkrak rupiah.

Analis Nomura Holdings Inc, Singapura, Dushyant Padmanabhan menjelaskan, belanja modal pada periode kuartal IV 2015 kemarin mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya karena adanya dorongan dari pemerintah untuk menjalankan proyek-proyek infrastruktur.

"Kami menjadi optimistis dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia, pasar saham dan juga nilai tukar rupiah," jelasnya seperti dikutip dari Bloomberg.

Asian Development Bank memperkirakan bahwa belanja untuk pembangunan infrastruktur akan mendorong pertumbuhan ekonomi ke level 5,3 persen pada 2016 ini jika dibandingan dengan perkiraan tahun sebelumnya yang ada di level 4,7 persen.

Salah satu bukti nyata belanja modal infrastruktur tersebut adalah peletakan batu pertama proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis (21/1/2016) kemarin. (Gdn/Ndw)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya