Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi VII DPR RI, Ramson Siagian mempertanyakan penawaran harga saham PT Freeport Indonesia yang mencapai US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 23 triliun.
Alasannya para wakil rakyat ini menganggap nilai tersebut tidak realistis mengingat saham induk usahanya Freeport McMoran di pasar modal Amerika Serikat (AS) anjlok.
"Tolong dijelaskan kenapa pengajuan harganya besar sekali, biar pun belum tentu dijalankan. Coba klarifikasi di sini," ucap Ramson saat Rapat Dengan Pendapat Dirjen Minerba di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (20/1/2016).
Ramson menilai, harga penawaran saham tersebut tidak wajar dengan melihat harga saham Freeport McMoran yang terus merosot hingga saat ini seharga US$ 3,95 per lembarnya. Sementara nilai kapitalisasi pasar perusahaan tambang emas raksasa itu di bursa saham AS hanya US$ 4,8 miliar.
Baca Juga
- Dana Buat Beli Saham Freeport Bisa dari Utang
- Komentar Wapres JK Soal Pengunduran Diri Bos Freeport
- Freeport Bakal Cari Presdir yang Bisa Kembalikan Kepercayaan
Advertisement
"Kalau melakukan penawaran harga dalam divestasi yang realistis, pakai perhitungan market up to date," ucap Ramson.
Direktur Jenderal Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bambang Gatot Ariyono menjelaskan, penawaran harga saham Freeport Indonesia sudah dihitung berdasarkan asumsi perusahaan. "Tapi itu (harganya) bukan patokan pemerintah. Kita akan evaluasi," ujar Gatot.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur dan EVP Freeport Indonesia, Clementino Lamury mengajukan harga divestasi saham 10,64 persen sebesar US$ 1,7 miliar berdasarkan perhitungan investasi perusahaan dalam jangka panjang paska 2021.
Seperti diketahui, kontrak Freeport Indonesia mengeruk tambang Grasberg, Papua akan berakhir pada 2021. Sedangkan proses negosiasi perpanjangan kontrak baru bisa dilakukan dua tahun sebelum kontrak berakhir, yakni 2019.
"Nilai saham itu menghitung asumsi perpanjangan operasi kami setelah 2021. Investasi yang sudah ditanamkan US$ 4,3 miliar untuk pengembangan tambang bawah tanah dan investasi US$ 15 miliar selanjutnya untuk keperluan yang sama," jelas Lamury.
Ramson yang tidak puas dengan jawaban tersebut, kembali melempar pernyataan yang menyindir Freeport Indonesia. "Ini tidak realistis, jangan dinilai yang belum investasi dong. Kita ingin perhitungan yang realistis, karena ini untuk kepentingan rakyat," ujar Ramson. (Fik/Ahm)