Said Aqil NU: 2 Tahun Lalu Saya Sudah Bilang ISIS Berbahaya

Aliran Timur Tengah tidak cocok diterapkan di Indonesia.

oleh Sugeng Triono diperbarui 17 Jan 2016, 18:46 WIB
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat mengikuti Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (17/1/2016). Kegiatan tersebut untuk mengajak seluruh elemen masyarakat menolak terorisme (Liputan6.com/Faisal R Syam)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) Said Aqil Siradj mengaku sudah memberikan peringatan kepada pemerintah mengenai bahaya teror yang akan disebarkan kelompok radikal ISIS di Indonesia.

Menurut Said Aqil, peringatan ini bahkan telah disampaikannya ke pemerintah sejak 2 tahun lalu atau jauh sebelum teror bom terjadi di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta pada Kamis 14 Januari lalu.

"Dari awal saya sudah bilang, ISIS ini sangat berbahaya. 2 tahun lalu saya sudah bilang, sudah 800 warga kita ke ISIS tapi kata pejabat kita hanya 200 orang," ujar Said Aqil Siradj di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (17/1/2016).

"Sejak 2 tahun lalu juga saya bilang, ini ada aliran dananya, harus dipantau terus. Tapi dibilang tidak ada," lanjutnya.

Menurutnya, saat ini Indonesia sudah masuk dalam darurat radikalisme, terorisme, bahkan narkoba. Dan salah satu penyebabnya adalah karena agenda reformasi yang terjadi pasca kerusuhan 1998 itu sudah ke luar batas.

"Kenapa sudah darurat? Karena reformasi kita kebablasan. Semua aliran masuk," kata Said Aqil.

Salah satu aliran yang masuk dan berbahaya lanjut Aqil adalah, aliran radikal yang berasal dari Timur Tengah seperti sekarang ini.

"Aliran Timur Tengah itu tidak cocok dengan Indonesia. Di Timur Tengah sendiri tidak ada ulama yang nasionalis serta tidak ada nasionalis yang menjadi ulama," imbuhya.

Sementara itu, dihadapan ribuan massa dari seluruh lapisan dan lintas agama yang hadir dalam acara 'Apel Kebhinekaan Lintas Iman', Said menyatakan bahwa kekerasan dalam bentuk apapun tidak pernah dibolehkan dalam ajaran Islam.

"Dan di dalam Alquran disebutkan tidak ada yang lebih zolim dari pada yang menjadikan Islam sebagai alasan kekerasan," pungkas alumnis University of Umm al-Qura, Mekah, tersebut.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya