Pengelola Sarinah: Tak Benar Satpam Kami Tewas Kena Bom

Suharto mengatakan saat kejadian ia langsung memerintahkan anggotanya mundur ke dalam gedung.

oleh Audrey Santoso diperbarui 15 Jan 2016, 14:11 WIB
Sejumlah anggota Jihandak TNI AD berjaga di depan gedung Sarinah Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1/2016). Ratusan petugas penjinak bom gabungan bersiaga pasca ledakan yang terjadi di pos polisi Sarinah, Jakarta. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Pengamanan Manajemen Gedung Sarinah, Suharto, membantah berita terkait satpamnya yang menjadi korban tewas teror Jakarta di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Kamis, 14 Januari 2016. Suharto mengatakan ia sudah melakukan konfirmasi ke polisi bahwa informasi tersebut tidak benar.

"Jadi sudah saya konfirmasikan kepada Polda Metro Jaya bahwa berita yang tersebar tidak benar. Anggota kami yang kemarin bertugas itu 14 anggota dan kondisi mereka masih utuh, tidak berkurang," kata Suharto kepada Liputan6.com di gedung Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (15/1/2016).

Suharto mengatakan saat kejadian ia langsung memerintahkan anggotanya mundur ke dalam gedung dan menutup semua akses masuk, mulai dari gerbang hingga lobi gedung. Begitu pun gerai-gerai di gedung Sarinah.

Satpam pun tidak ada yang berani meninggalkan gedung. Sebab jika nekat, pengelola tidak akan bertanggung jawab jika terjadi hal buruk terhadap mereka.

Aparat kepolisian berjaga di sekitar gedung Djakarta Theater di Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1/2016). Ratusan petugas penjinak bom gabungan bersiaga pasca ledakan yang terjadi di pos polisi Sarinah, Jakarta. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

"Satpam saya enggak ada yang berani keluar. Enggak ada yang nolong karena kalau dia bergerak keluar gedung harus minta izin komandan regu. Saat itu pasukan tidak ada yang keluar dari area. Yang mau makan, minum, kami sediakan. Prosedur kami, jika ada kejadian seperti kemarin adalah menutup gerai," Suharto menjelaskan.

Pria bertubuh kurus ini menuturkan tidak ada seorang pun, bahkan warga, yang boleh masuk ke gedung karena dikhawatirkan peneror menyusup ke dalam gedung untuk bersembunyi. Pengelola gedung pun mematikan lift agar jalur evakuasi terpusat dan terarah. Untuk pegawai yang nekat pulang, pengelola hanya membukakan 1 pintu, yakni pintu dekat area parkir motor yang terletak di belakang gedung.

"Tidak ada yang boleh masuk. Penghuni kita arahkan keluar pintu belakang. Lift kita matikan agar evakuasinya satu arus. Ada kecurigaan teroris ke sini, jadi mereka keluar tak boleh bergerombol. Pintu keluar-masuk ditutup. Sampai sekarang pun ditutup," ucap Suharto.

Petugas kepolisian saat melakukan penyelidikan di dekat lokasi pos pol sarinah, Jakarta, Kamis, (14/1/2016). Beberapa ledakan dan suara senjata api terjadi di pusat ibukota. (Liputan6.com/Yudha Gunawan)

Seperti hari ini, dari 5 pintu masuk yang ada, hanya 1 yang dibuka. Begitu pun untuk akses keluar.

"Yang dibuka hanya pintu masuk mobil dan pintu keluar. Hanya 2, tapi di sini ada 6 pintu masuk," Suharto menandaskan.

Dalam teror bom Thamrin Kamis, 14 Januari, sebanyak 7 orang tewas, terdiri atas 5 pelaku dan 2 warga sipil, sementara 24 warga lainnya terluka.

Tersiar kabar di media sosial bahwa seorang satpam gedung Sarinah tewas terkena ledakan bom di Pos Polisi Sarinah. Dalam tulisan tersebut, seorang netizen bahkan menobatkan satpam tersebut sebagai pahlawan karena berdasarkan ceritanya, satpam tewas itulah yang membawa pelaku bom bunuh diri ke pos polisi.

"Coba bayangkan andai satpam tadi tidak membawa teroris tersebut ke pos polisi, berarti bom bunuh diri tadi akan meledak di dalam Sarinah Departement Store. Artinya ratusan jiwa yang akan menjadi korban," kata netizen yang tak mencantumkan namanya tersebut dalam tulisannya.**

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya