Kenapa Penting Menonton Film Ngenest?

Apa muatan film Ngenest: Ketika Hidup Perlu Ditertawakan yang membuat filmnya layak disebut penting?

oleh Ade IrwansyahDiterbitkan 05 Januari 2016, 18:27 WIB
Apa muatan film Ngenest: Ketika Hidup Perlu Ditertawakan yang membuat filmnya layak disebut penting?

Liputan6.com, Jakarta - PERINGATAN: SPOILER ALERT! Esai film ini membicarakan film Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan. Plot dan inti ceritanya di ungkap di sini.  

I

Sebelum yang lain-lain ada cuitan menarik dari pengamat film Yan Widjaya soal judul film ini, Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan. Katanya, dalam cuitan di akun Twitter-nya, 26 Desember 2015 lalu, bukan tanpa alasan judul filmnya diberi sub-judul “Kadang Hidup Perlu Ditertawakan.”

Yan bilang, produser percaya judul bawa hoki. Jika filmnya hanya diberi judul “Ngenest” yang dibaca “ngenes” yang berasal dari kosa kata Jawa. Ketika dibakukan jadi “mengenaskan”. Artinya nasib sial. Tentu produser tak ingin filmnya bakal kena sial. Tak laku.

Yan, yang mengamati film sejak lama, mengatakan, judul bisa bawa apes. Dulu, katanya, ada film diberi judul Derita Tiada Akhir. “Eh, produsernya bangkrut sampai ajal.”

Baca Juga

  • 10 Film Indonesia Terbaik 2015
  • 10 Film Hollywood Terbaik 2015
  • 50 Film Hollywood Paling Dinanti di 2016

Mengecek buku Katalog Film Indonesia 1926-2005 yang ditulis JB Kristanto, Derita Tiada Akhir rilis tahun 1971 dan diproduseri Julies Rofi’ie lewat bendera Pt Sri Agung Utama Film.

Ada pula, katanya lagi, film horor yang semula berjudul Bangku Kosong. “Daripada bioskopnya kosong, ditambah ‘Hantu’ deh,” cuitnya. Hantu Bangku Kosong rilis 2006.

Maka, di bioskop kini kita saksikan Ngenest dengan sub-judul “Ketika Hidup Perlu Ditertawakan.”

Ngenest sebetulnya versi film dari buku yang ditulis Ernest Prakasa. Bukunya pun punya sub-judul, cuma berbeda dengan filmnya. Sub-judul bukunya adalah “Ngetawain Hidup Ala Ernest”.

Lanjut Baca:

Ernest menulis tiga buku seri Ngenest. Ia pula yang mengangkatnya ke film serta menjadi penulis skenario, sutradara serta jadi bintang utamanya. Hal tersebut sebuah lompatan besar bagi Ernest yang baru main film sejak 2014 lewat Comic 8. Namun, memang tak ada yang paling tahu soal tema yang ia filmkan selain dirinya sendiri. Ngenest versi buku dan film tak ubahnya memoar Ernest. Ia menceritakan kisah hidupnya sendiri. Alkisah, kita bertemu Ernest yang terlahir dari ayah-ibu keturunan Tionghoa. Sebagaimana lazimnya etnis Tionghoa, Ernest bermata sipit. Namun, ia justru masuk sekolah umum. Kontanlah Ernest jadi minoritas dan bahan bully-an teman-teman sebaya di sekolahnya. Di awal film, kita bertemu dialog Ernest kecil saat hari pertama masuk SD. “Gue Ernest,murid kelas I-B,” kata Ernest. “Bukannya kelas I-C, Cina. Hahahaha….,” timpal kawannya. Ke-“Cina”-an ini kemudian yang menjadi pokok utama masalah film ini. Sejak kecil, kita melihat Ernest jadi korban bullying orang-orang hanya lantaran ia seorang Tionghoa. Ia kerap jadi korban palak siswa sekolah lain, juga hanya lantaran ia Cina. Kita melihat Ernest berasimilasi. Ia mencoba bergaul dengan komplotan pem-bully-nya. Namun ia mendapati mereka bukan kawan sejatinya. Ia kecewa lantas bertekad, agar keturunannya kelak tak bernasib seperti dirinya, ia harus menikahi gadis pribumi. Dari sini bisa kelihatan, film Ngenest sebetulnya punya tema yang serius. Lewat film ini, untuk pertama kalinya pasca-Orde Baru runtuh di 1998, masalah ke-“Cina”-an diperbincangkan dalam sebuah produk budaya pop bernama film.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya