Gigolo Yogya Sempat Grogi Saat Pertama Kali Layani Swinger

Hasil bisnis layanan pemuas seks ini digunakan BW untuk memenuhi kebutuhannya.

oleh Yanuar H diperbarui 26 Nov 2015, 06:44 WIB
Ilustrasi Hubungan Seks (Liputan6.com/Johan Fatzry)

Liputan6.com, Yogyakarta - Kehidupan malam di kota besar seperti Yogyakarta selalu membawa cerita tersendiri. BW, mahasiswa semester 7 universitas swasta di Yogya ini, mengaku menikmati statusnya sebagai gigolo.

BW mengaku, awal menjadi gigolo adalah iseng dan ingin mencoba. Namun hasil melayani seks para tante, ibu muda dan pasangan suami istri atau swinger, ternyata cukup lumayan.

Hasil bisnis layanan pemuas seks ini digunakan BW untuk memenuhi kebutuhannya.

"Awalnya tidak cari uang, hanya ingin mencoba. Akhirnya malah keterusan dan hasilnya juga lumayan," ujar BW di Yogyakarta, Senin 23 November 2015.

BW mengaku, saat pertama kali mendapat tawaran seks swinger, dia sempat grogi. Bahkan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Namun lama kelamaan ia menikmati permintaan tersebut.

"Awalnya tetap grogi, tapi lama-lama terbiasa," ucap dia.

Untuk memuaskan permintaan layanan seks dari berbagai kalangan ini, BW tidak pernah mengkonsumsi obat tertentu. Ia hanya menjaga kesehatan tubuh agar tetap fit demi memberikan layanan memuaskan.

"Saya tidak pernah mengkonsumsi obat kuat. Biasa saja," kata BW.

Dosen Sosiologi Kriminal UGM Suprapto menyatakan, praktek prostitusi di kalangan mahasiswa terjadi karena kebutuhan saat ini makin beragam, seperti untuk membeli gadget, motor hingga mobil.

Hal ini memicu ayam kampus saat ini tidak hanya perempuan, tetapi juga dari kalangan laki-laki. Selain itu juga karena banyaknya ibu-ibu tercukupi kebutuhan materi, namun kebutuhan imateriil tidak terpenuhi.

Hal inilah membuat jasa pemuas seks daari kaum pria merajalela. "Karena peluang muncul, ada yang memanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan. Tetapi untuk disebut gigolo belum ya, karena definisi gigolo termasuk melindungi konsumennya. Kalau ini hanya sebatas hubungan seks bebas aja,"jelas dia.

Suprapto menyatakan, dari segi ekonomi, pekerjaan gigolo  lebih menguntungkan dibanding ayam kampus. Karena jumlahnya yang terbatas,  akses menjadi ekslusif. Tipe pelanggan dari ibu-ibu akan menjaga hubungannya dengan gigolo itu. Sementara pengguna ayam kampus akan berpindah ke produk lainnya.

"Begitu dia (konsumen) merasa cocok dengan dia (gigolo), dia tidak ingin melepaskannya,"kata Suprapto. (Ron/Dan)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya