[KOLOM] Inter atau Roma? Napoli Kandidat Juara Seri A

Bisakah Napoli lakukan anomali musim ini? Simak ulasannya di kolom Asep Ginanjar.

oleh Liputan6Diterbitkan 06 November 2015, 07:46 WIB
Kolom Bola Asep Ginanjar (grafis: Abdillah/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta: Sebelas pekan berlalu, Serie-A diwarnai persaingan sangat sengit. Peringkat ketiga hanya tertinggal satu poin dari dua tim teratas, sedangkan peringkat keempat terpaut satu angka saja dari peringkat ketiga. Lalu, hanya tiga poin yang memisahkan peringkat keempat dengan dua tim di bawahnya.

Peta persaingan yang demikian ketat itu menyulitkan siapa pun untuk menerka sang calon juara. Fiorentina, Internazionale, AS Roma, dan Napoli memang tengah memimpin di depan. Namun, di belakang mereka, AC Milan, Sassuolo, Lazio, dan Atalanta bisa tiba-tiba mengudeta kapan saja.

“Benar-benar musim yang sangat aneh, terbuka, dan segala kemungkinan bisa terjadi,” tutur Carlo Ancelotti, pelatih kawakan yang pernah menangani Reggiana, Parma, Juventus, dan Milan.

Keterkejutan Ancelotti itu sesungguhnya agak berlebihan. Di Serie-A, persaingan sangat ketat antara empat tim teratas setelah melewati sebelas giornata bukanlah hal asing. Sejak 1994-95 saja, enam kali hal itu terjadi. Terakhir pada 2011-12. Bahkan, pada 2008-09, ada delapan tim yang terpaut tipis di klasemen giornata ke-11. Jarak antara capolista dan peringkat ke-8 hanya empat poin. Jadi, ini hanya kejutan biasa.

REUTERS/Claus Fisker

Jikapun ada hal yang luar biasa, itu adalah ketiadaan Juventus. Dalam enam kesempatan sebelumnya, I Bianconeri selalu terlibat dalam persaingan ketat di papan atas. Padahal, Juventus musim ini datang dengan predikat juara empat kali beruntun.

Status itu pula yang membuat Juventus sangat diunggulkan pada awal musim. Rumah-rumah taruhan menempatkan tim asuhan Massimiliano Allegri itu di posisi teratas. Alhasil, kini banyak orang yang terkecoh. Salah satunya Alessandro Nesta, eks palang pintu Lazio dan Milan. "Saya pernah mengatakan bahwa Juventus yang akan juara. Namun, sepertinya saya keliru," kata dia.


PESONA NAPOLI

Kini muncul idola baru. Ramai-ramai para pakar dan pencinta sepak bola Italia memalingkan muka ke Napoli. Mereka terpikat oleh sepak terjang Marek Hamsik cs. yang memesona di bawah allenatore anyar, Maurizio Sarri.

“Sejauh ini, Napoli adalah tim terbaik yang kami lihat (saat berlaga) di Genoa,” tutur Enrico Preziosi, Presiden Genoa, pascalaga kedua tim yang berakhir imbang 0-0 pada akhir pekan lalu. “Roma dan Napoli merupakan kandidat utama juara musim ini. Roma mungkin tim paling komplet, tapi Napoli punya pelatih jempolan dalam diri (Maurizio) Sarri. Dia adalah pembelian terbaik (Aurelio) De Laurentiis bagi Napoli.”

Faktor Sarri pula yang membuat Ancelotti terkesima. “Saya baru sekali saja menonton mereka, yakni saat melawan Empoli yang bisa jadi itu penampilan terburuk mereka. Saya menyukai organisasi tim, kecepatan, dan teknik mereka,” urai dia.

KRITIK - Maurizio Sarri mengritik permainan Naoli kala mengalahkan Fiorentina 2-1, Minggu (18/10/2015) malam WIB. (Football-Italia)

Lanjut Baca:

Lebih lanjut, Ancelotti berujar, “Saya sungguh menyukai permainan Empoli di bawah Sarri musim lalu. Mereka sebuah tim yang dinamis dengan identitas jelas dan mengusung sepak bola menyerang. Terdengar paradoks, tapi Napoli saat ini mengingatkan saya pada Empoli. Mereka kompak dengan garis pertahanan sangat tinggi.”Napoli memang bukan fenomena baru. Dalam beberapa musim terakhir, I Partenopei selalu meramaikan bursa perebutan Scudetto. Namun, kedatangan Sarri membawa sesuatu yang berbeda. Meski sempat dipandang sebelah mata oleh Diego Maradona, legenda Napoli, karena hasil buruk dalam tiga laga awal, Sarri adalah kepingan penyempurna bagi Napoli.Selama ditangani Rafael Benitez, Napoli adalah tim kamikaze. Lini penyerangan mereka luar biasa, namun lini belakang mudah digoyang lawan dan kebobolan. Sarri memperbaiki kelemahan itu. "Sarri itu maniak dalam hal manajemen lini pertahanan," terang Marco Titi, agen Sarri. "Dia memfokuskan pada pergerakan bola, bukan pergerakan pemain. Saya sebenarnya tak menganggap dia tipe pelatih bertahan, namun hasil di lapangan membuktikan hal itu." Sarri bahkan menggunakan pesawat nirawak untuk merekam pergerakan empat pemain belakangnya dari udara. Selain itu, dia juga sangat terobsesi dengan set piece. Dalam latihan, anak-anak asuhnya sampai melakukan tak kurang dari 33 kali set piece, baik tendangan bebas maupun sepak pojok.Meski begitu, bukan berarti tim asuhan Sarri hanya hebat dalam bertahan. James Horncastle, pengamat sepak bola Italia, punya deskripsi tersendiri saat melihat sepak terjang Empoli bersama Sarri musim lalu. "Melihat Empoli asuhan Sarri seperti mendengarkan sebuah orkestra. Mereka memainkan harmoni yang sempurna, bertahan dan menyerang sebagai kesatuan," ungkap dia.Keseimbangan itu pula yang kini terlihat di Napoli. "Tahun lalu, Napoli mencetak 70 gol, sama dengan Juventus. Tapi, mereka kebobolan nyaris 40 kali. Ini menunjukkan tak ada keseimbangan. Sarri telah mengubah tim ini," ulas Marcello Lippi, eks allenatore Napoli. "Dalam tiga bulan, Sarri melakukan hal yang biasanya dilakukan pelatih lain dalam dua tahun."

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya