Menteri Siti: Presiden Mana yang Bisa Bekerja seperti Jokowi

Pemerintah Indonesia terus bekerja keras memadamkan titik api di hutan-hutan di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

oleh Luqman Rimadi diperbarui 28 Sep 2015, 22:25 WIB
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya memperlihatkan data saat Konferensi Pers di Kementrian LHK, Jakarta, Jumat (18/9/2015). Siti Nurbaya menetapkan 10 perusahaan terlibat dalam pembakaran hutan. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - 2 Negeri Jiran Malaysia dan Singapura telah melayangkan protes kepada Indonesia atas 'ekspor' kabut asap yang kini  terpaksa dihirup warganya setelah kebakaran hutan melanda Sumatera dan Kalimantan. Protes yang dilayangkan itu pun dimaklumi pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

Namun demikian, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar meminta pemerintah Singapura bijaksana dalam menyikapi 'ekspor' kabut asap dari hutan Indonesia. Menurut Siti, pemerintah Indonesia terus bekerja keras memadamkan titik api di hutan-hutan di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

"Saya hanya bilang yang ariflah. Saya paham kenapa mereka marah, tapi harusnya bisa lebih arif sebab saya juga ikutin turun naiknya. Artinya harus ada kearifan karena Indonesia bukan tidak kerja. kita kerja luar biasa," tegas Siti di Jakarta, Senin (28/9/2015).

Ia pun mencontohkan aksi Presiden Jokowi yang langsung turun ke lokasi kebakaran hutan dan mendadak menggelar rapat di tengah kepulan kabut asap di kawasan hutan Desa Sakakajang, Kecamatan Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, beberapa hari lalu.

Jokowi didampingi Menteri LHK Siti Nurbaya, Panglima TNI, dan sejumlah pejabat setempat mengecek lokasi bekas kebakaran lahan di Desa Guntung Damar, Banjarbaru, Kalsel, Rabu (23/9/2015). (ANTARA FOTO/Herry Murdy Hermawan)

"Mereka harus tahu, kita ini ‎kerja luar biasa. Saya enggak tahu presiden mana yang bisa bekerja seperti presiden Jokowi," ucap Siti.

Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki sebelumnya juga memaklumi kemarahan Singapura dan Malaysia. Namun, dia meminta agar 2 negara serumpun itu memahami berbagai hambatan yang terjadi dalam menanggulangi bencana tersebut.

"Saya kira pastilah asap ini sangat meluas. Asap yang dihasilkan dari kebakaran lahan sawit atau lahan konsensi untuk sawit memang cukup meluas," ujar Teten di Istana Kepresidenan, Jakarta.

"Tapi saya kira Singapura harus memahami kesulitan kita, karena untuk memadamkan ini bukan satu hal yang sederhana," imbuh dia.

Tapi di luar 'ekspor' kabut asap, Singapura dan Malaysia selama ini turut menikmati hasil hutan Indonesia. Tak cuma bahan baku produk industri maupun tambang, keberadaan hutan Indonesia juga turut menyumbang pasokan oksigen 2 negara tersebut.

"Saya kira Singapura juga cukup menikmatilah selama ini suplai oksigen dari Indonesia selama 9 bulan dan kita tahu juga banyak industri kebun, tambang yang menyimpan hasil ekspornya di Singapura," ucap Teten. (Ans/Ron)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya