LIPI Kembangkan Baterai Kendaraan Hibrida

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan baterai lithium berbahan keramik padat yang lebih tahan panas untuk digunakan pada kendaraan masa depan berbahan bakar listrik fuel cell.

oleh Liputan6Diterbitkan 03 Juni 2009, 16:03 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan baterai lithium berbahan keramik padat yang lebih tahan panas untuk digunakan pada kendaraan masa depan berbahan bakar listrik fuel cell.

Peneliti Material dan Komposit Pusat Penelitian Fisika LIPI, Doktor Bambang Prihandoko di Jakarta, baru-baru ini, menjelaskan jika LIPI yang pertama kali berhasil mengembangkan penemuan tersebut. "Dengan demikian sistem fuel cell tidak lagi memerlukan sistem pendingin," ujar Bambang. Sebab, ia menambahkan, baterai lithium dari keramik mampu menahan panas sampai 200 derajat Celsius.

Pasalnya, dunia mobil hibrida hingga kini masih menggunakan baterai lithium dari polimer padat yang kekurangannya tidak tahan panas. Dan untuk sistem pendingin diperlukan tempat dan biaya tambahan di kendaraan. Hal itu bisa jadi tidak efisien.

Bambang juga menjelaskan, berat baterai lithium hanya seperlima berat aki konvensional. Tahun depan penggunaan aki di kendaraan listrik buatan LIPI (Marmut LIPI) akan diganti dari semula aki menjadi baterai lithium ini. Alhasil, Marlip menjadi lebih ringan.

Saat ini para produsen mobil hibrida sedang berlomba-lomba menciptakan baterai yang aman, bertenaga, tahan lama, ringan, dan cepat diisi ulang sambil memaksimalkan kemampuan baterai lithium-ionnya.

Mobil hibrida yang dilengkapi sistem fuel cell ramah lingkungan, sejak dua dekade terakhir mulai banyak diperkenalkan. Hampir seluruh produsen kendaraan bermotor meluncurkan jenis mobil hibrida yang menggunakan sumber energi premium dan juga menggunakan energi listrik.

Proses kimia yang disebut pertukaran ion terjadi di dalam elektrolit ini dan menghasilkan listrik serta air panas, sehingga fuel cell menghasilkan energi listrik tanpa adanya pembakaran dan tidak ada polusi.

Pihaknya juga mengembangkan sel baterai lithium dari keramik tadi agar kemampuan kendaraan meningkat.
Baterai yang dikembangkan pihaknya itu, sudah dalam bentuk prototipe dan sudah dipatenkan sehingga sudah bisa diproduksi secara massal.

Tanpa baterai lithium, menurut Bambang, kendaraan listrik dengan sistem fuel cell tidak bekerja sebagaimana mestinya di mana kecepatan konstan tidak bisa bergerak lebih cepat.(ANS/ANTARA)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya