PBB: Konflik Timur Tengah Sebabkan 13 Juta Anak Tak Bersekolah

UNICEF juga mendokumentasikan sejumlah serangan terhadap sekolah dan guru di seluruh wilayah itu.

oleh Tanti Yulianingsih diperbarui 03 Sep 2015, 15:48 WIB
Anak-anak di Jobar, Damaskus. Salah satu daerah rawan konflik. (Reuters)

Liputan6.com, London - Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB menyebut ada lebih dari 13 juta anak-anak di kawasan Timur Tengah tak bisa mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Alasannya, karena tempat tinggal mereka tengah dikecamuk konflik.

"Hampir 9.000 anak di Suriah, Irak, Yaman dan Libya tak bisa mendapatkan akses pendidikan," jelas perwakilan PBB seperti dikutip dari BBC, Kamis (3/9/2015).

UNICEF juga mendokumentasikan sejumlah serangan terhadap sekolah dan guru di seluruh wilayah itu.

"Dampak merusak konflik sedang dirasakan oleh anak-anak tepat di seluruh wilayah. Ini bukan hanya kerusakan fisik yang dilakukan ke sekolah-sekolah, tapi putus asa dirasakan oleh generasi anak sekolah yang melihat harapan dan masa depan mereka hancur," kata Direktur regional untuk UNICEF di Timur Tengah dan Afrika Utara, Peter Salama.

Menurut data yang dihimpun dalam laporan bertajuk Education Under Fire, badan PBB yang menangani anak-anak itu juga menyebut sekitar 13,7 juta anak yang tak bersekolah mewakili 40% murid di Suriah, Irak, Yaman, Libya, dan Sudan. Angka itu dikhawatirkan terus bertambah hingga mencapai 50% dalam beberapa bulan mendatang.

UNICEF mengatakan jumlah itu kian bertambah, lantaran ribuan sekolah hancur akibat konflik berkepanjangan. Data terkini menunjukkan hampir 9.000 sekolah di Suriah, Irak, Yaman, dan Libia tidak bisa digunakan. Bahkan pada 2014 terdapat 214 insiden serangan ke sekolah di Suriah, Irak, Libya, wilayah Palestina, Sudan, dan Yaman.

Khusus di Suriah, 1 dari 4 sekolah tutup sejak Maret 2011. Hal ini langsung berdampak pada 2 juta anak-anak usia sekolah.

Salama juga menyebut, imbas juga dirasakan para guru. Dalam laporan terlihat bahwa pembunuhan dan penculikan murid, guru, dan staf pendidik telah menjadi hal lumrah di kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut menyebabkan ribuan guru 'gantung sepatu', karena tak ingin menanggung risiko yang terlalu besar. Sementara anak-anak bahkan kerap menjadi pejuang di usia yang terlalu muda.

"UNICEF memerlukan dana tambahan senilai US$300 juta tahun ini, untuk memperbaiki akses pendidikan bagi anak-anak di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara," tutur Salama. (Tnt/Ein)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya