Perta Arun Gas Bakal Manfaatkan LNG untuk Pendingin Ikan

Direktur Utama PT Perta Arun Gas, Teuku Khaidir mengatakan, lemari pendingin itu dapat dimanfaatkan untuk nelayan.

oleh Pebrianto Eko Wicaksono diperbarui 25 Jun 2015, 20:49 WIB
Terminal LNG Arun Pertagas (Foto: Pebrianto Eko/Liputan6.com)

Liputan6.com, Lhokseumawe - PT Perta Arun Gas berencana membuat lemari es raksasa untuk menyimpan ikan, dengan memanfaatkan kedinginan gas alam cair (Liquid Natural Gas/LNG) yang di proses pada terminal LNG Arun, Lhokseumawe, Aceh.

Direktur Utama PT Perta Arun Gas Teuku Khaidir mengatakan, suhu LNG yang mencapai minus 165 derajat celcius bisa dimanfaatkan sebagai pendingin ikan untuk nelayan.

"Ke depan energi LNG dinginnya minus 165 derajat diubah ke gas alam 28 derajat itu cukup besar," kata Khaidir, di termilan LNG Arun, Lhokseumawe, Aceh, Kamis (25/6/2015).

Khaidir menuturkan, hal tersebut bisa dikoordinasikan dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, yang sedang menggalakkan tempat pendingin ikan. "Kalau bisa bilang ke bu susi saya ingin bikin kulkas raksasa," tutur Khaidir.

Menurut Khaidir, memanfaatkan suhu LNG untuk bahan pendingin ikan memiliki potensi keuntungan yang baik. "Cool storage kalau memang dibuat harus di sini. Punya potensi di sana. Cool storage bisa besar," kata Khaidir.

Wakil Ketua Umum Kelautan dan Perikanan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Yugi Prayanto pernah mengatakan, produk lemari pendingin dapat digunakan untuk memudahkan nelayan menyimpan hasil tangkapan lautnya. Lemari pendingin itu ditempatkan di sekitar pelabuhan-pelabuhan yang menjadi wilayah kerja Pelindo serta pasar.

"Cold storage ini untuk menyimpan ikan supaya daya tahannya lebih tinggi, lebih lama dan harga tidak jatuh. Ini juga menghindari nelayan agar tidak pakai formalin, jadi masyarakat tidak tertarik lagi membeli karena sudah tercampur zat kimia," tutur Yugi.

Lemari pendingin itu, menurut Yugi, bisa membuat ikan lebih awet secara alami. Misalnya saja bila disimpan dengan suhu minus 25 derajat celcius, maka ikan bisa bertahan selama 6 bulan.

"Sayangnya sistem logistik perikanan nasional masih perlu didukung pemerintah. Kalau jumlah cold storage lebih banyak lagi maka peluang harga bisa terjaga tidak fluktuatif seperti harga daging sapi yang terus bergejolak," kata Yugi.

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) tengah menggenjot sektor maritim terutama perikanan. Sektor perikanan itu dinilai memiliki potensi besar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan, sektor perikanan berkontribusi cukup besar untuk neraca perdagangan Indonesia hingga April 2015. Kontribusi sektor perikanan mencapai US$ 839,35 juta dari total neraca perdagangan Indonesia yang surplus mencapai US$ 2,77 miliar.

Dia menjelaskan, ekspor produk perikanan mengalami kenaikan dalam dua tahun terakhir. Ekspor produk perikanan mencapai US$ 2,86 miliar pada 2013. Sedangkan ekspor produk perikanan naik menjadi US$ 3,11 miliar pada 2014.

 

(Pew/Ahm)

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya