Dihukum Mati, Pelaku Bom Maraton di Boston Minta Maaf ke Korban

Tsarnaev akan dihukum mati dengan cara suntik mati.

oleh Liputan6 diperbarui 25 Jun 2015, 07:37 WIB
Dzhokar Tsarnaev, bomber Boston. (BBC)

Liputan6.com, Boston - Pelaku Bom Maraton di Boston, Dzhokhar Tsarnaev (21), meminta maaf atas serangan maut pada 2013. Namun, hakim tetap memvonisnya dengan hukuman mati karena membunuh 4 orang dan melukai 264 lainnya dalam aksi tidak masuk akalnya tersebut.

"Saya memohon maaf atas nyawa yang saya cabut, atas penderitaan yang saya timbulkan, untuk kerusakan yang saya lakukan," kata Tsarnaev kepada sidang yang dipenuhi para orangtua korban serangan 15 April 2013 itu, seperti yang dikutip Antara dari Reuters.

Ini adalah pertama kalinya Tsarnaev berbicara langsung dalam pengadilan. "Dalam kasus ini, saya bersalah atas serangan itu bersama abang saya," kata Tsarnaev yang berdiri di meja pesakitan.

Tsarnaev dinyatakan bersalah atas pembunuhan 3 orang dan melukai 264 dalam pemboman di garis finis maraton di Boston. Peristiwa itu menggegerkan dunia pada saat itu. Setelah meledakkan bom, dia juga menembak mati seorang polisi 3 hari kemudian.

Pemboman itu adalah salah satu serangan teror terbesar di Amerika Serikat sejak serangan 11 September 2001.

"Selama nama Anda disebut, maka yang akan dikenang adalah kejahatan yang Anda lakukan," kata hakim pengadilan distrik AS, George O'Toole, kepada Tsarnaev sebelum memvonis.

Tsarnaev akan dihukum mati dengan cara suntik mati.

Pemuda berambut coklat tersebut berbicara setelah 2 lusin orang, termasuk korban selamat, berpendapat mengenai serangan itu.

Rebekah Gregory yang kehilangan kaki kiri, berbicara langsung kepada Tsarnaev. "Teroris seperti Anda melakukan 2 hal kepada dunia. Pertama, menciptakan kehancuran massal, namun yang kedua adalah yang paling menarik, karena tahukah Anda yang sungguh diakibatkan oleh kerusakan massal? Ini malah mempersatukan semua orang," kata Gregory.

Sementara itu, korban tewas yakni Martin Richard (8), mahasiswa pertukaran studi asal Tiongkok Lingzi Lu (26), dan manajer restoran Krystle Campbell (29). 3 Hari kemudian, Tsarnaev dan abangnya Tamerlan, menembak mati polisi penjaga Institut Teknologi Massachusetts, Sean Collier (26).

Tamerlan Tsarnaev tewas dalam baku tembak yang memaksa Dzhokhar menyerahkan diri.

Ibunda Krystle Campbell, Patricia, menyebut tindakan Tsarnaev itu "hina".

"Anda mengambil jalan sesat. Saya tahu hidup itu susah, namun pilihan yang Anda buat adalah hina dan yang Anda lakukan kepada anak saya adalah menjijikkan," kata Krystle.

Tsarnaev lalu meminta maaf atas kesalahan yang dia dan abangnya lakukan.

"Saya bersedu pada Allah untuk memberi ampun kepada saya, saudara saya dan keluarga saya," kata Tsarnaev. "Saya memohon Allah memberikan ampunannya kepada semua yang ada di sini."

"Anda semua berkata pada saya betapa mengerikan peristiwa ini, beban yang saya timpakan kepada Anda. Saya berdoa 4 orang itu berkesempatan melanjutkan hidupnya, namun saya malah merenggutnya dari Anda semua," kata Tsarnaev kepada 2 lusinan orang yang berbicara atas nama korban. (Ant/Bob/Rmn)

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya