Warga Aceh Saksikan Gerhana Bulan 'Merah Darah'

Meskipun dalam kondisi cuaca mendung disertai hujan, sebagian warga Aceh dapat menyaksikan gerhana bulan.

oleh Liputan6 diperbarui 04 Apr 2015, 23:52 WIB
Gerhana bulan kali ini adalah bagian dari rangkaian 4 gerhana bulan total yang berurutan (gerhana bulan tetrad). Dua gerhana terjadi pada 2014 dan dua lainnya pada 2015, Jakarta, (8/10/14).(Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Meulaboh - Fenomena gerhana bulan 'merah darah' disaksikan di berbagai daerah di Tanah Air. Di Provinsi Aceh, misalnya, sebagian warga dapat menyaksikan gerhana bulan meskipun dalam kondisi cuaca mendung disertai hujan.

Muhksinudin (63) warga Desa Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan di Meulaboh mengatakan, sesaat berlangsung gerhana bulan tubuhnya terasa dingin gemetar terasa seperti kena embun pagi.

"Setiap gerhana satu hal yang dirasakan oleh tubuh manusia bila tidak terlihat maka akan terasa dingin sampai ke tulang, seperti kena embun pagi, malam ini dinginnya terasa sekali," tutur Muhksinudin.

Dia menceritakan peristiwa gejala gerhana sekitar dekade 1950-an apabila gerhana sedang berlangsung, maka tubuh terasa dingin bahkan lentera dan obor tidak bisa menjadi penerang jalan. Saat demikian barulah masyarakat melaksanakan salat khusuf atau salat gerhana serta memukul beduk atau kentongan.

Perhitungan terjadinya gerhana tersebut menurut tokoh masyarakat ini sangat mungkin apabila dihitung dari bulan arab dipadukan dengan hisap arab, biasanya di Aceh disebutkan muncul 'panamo' (bulan penuh) bertepatan 15 hari bulan langit masuk 15 Jumadil Akhir 1436 Hijriah.

Menurut dia, masyarakat di kawasan itu tidak melaksanakan salat gerhana (kusyupain atau khusuf) karena kejadian fenomena gerhana bulan tahun ini melintas di saat jam salat magrib-isya. Masyarakat tidak ada yang menyaksikan fenomena tersebut karena berada dalam rumah dan masjid.

Sama halnya dengan masyarakat Desa Ranto Panjang Timur, Kecamatan Meureubo, sejumlah pemangku adat dan ustaz yang ditemui mengatakan tidak melaksanakan salat gerhana bulan karena sama sekali tidak mengetahui adanya peristiwa gejala alam ini.

"Kami baru saja tadi selesai salat magrib pukul 19.20 WIB, sepertinya tidak ada gerhana. Tapi tidak tahu juga karena cuaca mendung ditambah hujan sampai selesai salat isya barusan," ujar imam masjid Ranto Panjang Tgk Ali Mudin usai salat isya berjemaah.

Sekitar pukul 19.30 WIB, cuaca mendung di sejumlah kecamatan Aceh Barat menghilang, bulan dan bintang kembali bersinar menandakan peristiwa gerhana bulan mungkin saja sudah terjadi sebagaimana disaksikan dan dirasakan sebagian daerah lain di Indonesia.

Sementara di Banda Aceh, gerhana bulan tampak jelas, sekitar pukul 19.15 WIB terjadi gerhana total, kemudian secara perlahan bulan tampak kembali sampai pukul 20.00 WIB sudah kelihatan setengah.

Sekitar pukul 20.15 WIB, bulan kembali normal atau purnama, dan kemudian hilang karena tertutup awan. (Ant)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya