Herman Felani-Mutia Datau Tegang

BEGITULAH adanya. Rupanya Herman-Mutia sudah lama sering bertengkar. Rumah tangga mereka seperti menyimpan api dalam sekam. Dan, puncaknya terjadi Rabu, 12 Januari 2005. Namun yang jadi korban justru adik Mutia, Ravita Datau. Kok bisa? Begini ceritanya. Beberapa waktu lalu, Herman dan Mutia hendak membeli rumah milik Made G. Putrawan di kawasan Jakarta Selatan. Mereka pergi diantar Ravita. Sampai di sini semua berjalan baik. Tiba di rumah yang dimaksud, ditemani Made, ketiganya melihat-lih...

oleh Liputan6Diterbitkan 19 Januari 2005, 14:31 WIB
BEGITULAH adanya. Rupanya Herman-Mutia sudah lama sering bertengkar. Rumah tangga mereka seperti menyimpan api dalam sekam. Dan, puncaknya terjadi Rabu, 12 Januari 2005. Namun yang jadi korban justru adik Mutia, Ravita Datau. Kok bisa? Begini ceritanya. Beberapa waktu lalu, Herman dan Mutia hendak membeli rumah milik Made G. Putrawan di kawasan Jakarta Selatan. Mereka pergi diantar Ravita. Sampai di sini semua berjalan baik. Tiba di rumah yang dimaksud, ditemani Made, ketiganya melihat-lihat kondisi dan ruangan dalam rumah. Begitu sampai di ruang makan, Mutia melihat sebuah puisi terpampang di dinding. Mutia membaca puisi berjudul Jangan Sentuh Aku itu. Entah apa maknanya, Herman mengomentari puisi tersebut. Namun komentar Herman membuat Mutia marah. Herman dan Mutia bertengkar hebat. Made dan Ravita berusaha melerai. Tapi apa lacur, Herman justru melayangkan telepon genggamnya ke bagian kepala Ravita. Buk, Ravita pun terluka. Persoalan jadi panjang. Ravita tak terima dan melaporkan perbuatan kakak iparnya ke Kepolisian Sektor Metro Ciputat, Jaksel. "Saya nggak mau pusing. Keadilan patut ditegakkan," kata Ravita. Dia pun sudah menyiapkan pengacara. Mutia memang berharap persoalan bisa diselesaikan kekeluargaan. Namun karena berkasnya sudah di tangan polisi, dia mengaku, tak bisa berbuat banyak. "Biarlah semua diselesaikan dengan hukum," ungkap Mutia. Walah...

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya