Hari Musik Nasional dan Belantika Musik Tanah Air

Perkembangan pesat musik di Tanah Air seiring dengan perkembangan permasalahannya. Mulai soal pembajakan hingga kisruh royalti.

oleh Liputan6 diperbarui 09 Mar 2015, 07:28 WIB
(Liputan 6 TV)

Liputan6.com, Jakarta - Lagu Bengawan Solo gubahan Gesang Martohartono pada 1940 bisa dibilang paling fenomenal di Indonesia. Tak hanya tersohor di Tanah Air, lagu bergenre keroncong ini sangat populer di Jepang setelah diperkenalkan para tentara Jepang yang saat itu menjajah Indonesia.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Senin (9/3/2015), beralih ke tahun 60 hingga 70-an, Koes Bersaudara bersama Muri sang drummer menjadi kiblat musik bergenre pop dan rock and roll di Indonesia, Koes Plus juga terbilang musisi paling produktif.

Masih di tahun 70-an, grup band God Bless dengan pentolannya Ahmad Albar menyita perhatian lewat genre rock dengan lagu Panggung Sandiwara. Genre rock berkembang karena dinilai mampu mengekspresikan diri lebih maksimal.

Raja dangdut Rhoma Irama juga merajai musik di tahun 70 hingga 80-an. Dangdut menjadi akrab di telinga, setelah keberhasilannya mempopulerkan dangdut melalui layar lebar.

Di kalangan penyanyi Solo, nama Chrisye terbilang sukses mengarungi 3 dekade bermusik. Suara khasnya mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Lagu cinta hasil kolaborasi dengan Erwin Gutawa mencatatkan kesuksesannya.

Memasuki tahun 90-an hingga 2000, grup band mulai mendominasi industri musik Tanah Air, mulai dari Dewa 19, Gigi, Padi, Sheila on 7 hingga Peterpan di awal era milenium menjadi primadona.

'Demam' girl band dan boy band yang datang dari Korea sempat memengaruhi musik Tanah Air. Cherrybelle salah satunya. Grup vocal ini terdiri dari 9 gadis belia yang bernyanyi sambil menari.

Perkembangan pesat musik di Tanah Air ternyata seiring dengan perkembangan permasalahannya. Mulai soal pembajakan hingga kisruh royalti.

Adalah Persatuan Artis, Pencipta dan Rekaman Musik Indonesia (PAPRI) yang mengusulkan adanya Hari Musik Nasional kepada pemerintah. Tentunya sebagai harapan agar penetapan ini bisa memperbaiki kondisi industri musik di Tanah Air.

Tangga 9 Maret pun dipilih sebagai penghormatan kepada WR Soepratman, sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Gayung bersambut, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Keppres Nomor 10 Tahun 2013 tentang penetapan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional.

Lalu pascapenetapan, selesaikah permasalahan dunia musik di Tanah Air? (Dan/Ans)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya