Ekonomi Bengkulu Tumbuh 5,49%, Terendah Dalam 5 Tahun

BPS mencatat ekonomi Bengkulu mengalami perlambatan pertumbuhan.

oleh Yuliardi Hardjo PutroDiterbitkan 06 Februari 2015, 13:23 WIB
Ilustrasi pertumbuhan Ekonomi (Liputan6.com/Johan Fatzry)

Liputan6.com, Bengkulu - Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu mengalami perlambatan.  Bahkan dalam periode 2014, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Bengkulu terendah dalam lima tahun terakhir.

Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Dodi Herlando mengungkapkan, dilihat dari pertumbuhan perekonomian per tahun pada 2014 merupakan angka terendah. Pertumbuhan ekonomi Bengkulu hanya pada angka 5,49 persen pada tahun berjalan atau year on year (yoy)

"Perlambatan ini dipengaruhi banyak faktor, diantaranya pengaruh krisis global negara lain sehingga membuat ekspor Bengkulu juga menjadi tertekan, serta juga disebabkan oleh kenaikan bahan bakar minyak yang diikuti kenaikan bahan pokok," ujar Dodi di Bengkulu (5/2/2015).

Jika dibandingkan dengan pertumbuhan perekonomian pada 2013, kata Dodi terjadi perlambatan pertumbuhan sekitar 0,59 persen dari angka 6,08 persen (yoy).

Sementara, sektor utama penyumbang perekonomian, tetap tumbuh sama besarnya 2013 dengan 2014, namun yang turun itu sektor pendukung lain. Pengeluaran konsumsi rumah tangga, katanya, masih mendominasi pertumbuhan ekonomi Bengkulu yang  3,78 persen.

Struktur perekonomian provinsi tahun 2014, masih didominasi oleh tiga lapangan usaha utama, yakni, pertanian kehutanan dan perikanan dengan angka 31,21 persen.

Sementara perdagangan besar dan eceran menyumbang 13,42 persen pada struktur ekonomi Bengkulu, sedangkan, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib, hanya menyumbang 9 persen.

Jika dilihat dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan soaial, yakni sebesar 9,48 persen.

Sedangkan dari pengeluaran, pertumbuhan ekonomi tertinggi, menurutnya dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi lembaga non profit yang tercatat tumbuh sebesar 15,09 persen. (Yuliardi/Ndw)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya